Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) dilaporkan mengorbankan kesepakatan senilai sedikitnya US$1 miliar yang seharusnya menjadi pendapatan tetap selama delapan tahun. Kesepakatan itu batal karena CAF memutuskan mengubah Afcon dari turnamen dua tahun sekali menjadi empat tahun sekali. Fakta ini terungkap dalam laporan The Guardian yang merilis detail dokumen tender dan pernyataan resmi CAF.
Sinyal perubahan sebenarnya sudah muncul sejak pertengahan 2025, ketika Presiden CAF Patrice Motsepe masih berbicara optimistis soal kemitraan senilai US$1 miliar tersebut. Namun dalam hitungan bulan, arah kebijakan organisasi berbelok total. Akibatnya, CAF kini harus mengulang proses mencari mitra komersial jangka panjang dari awal.
CAF Buka Tender Baru untuk Afcon 2028, 2032, dan 2036
Pada 5 Juli 2025, sehari menjelang Piala Afrika Wanita yang sempat tertunda di Maroko, Motsepe berbicara kepada The Guardian di Rabat. Percakapan itu terjadi setelah rapat komite eksekutif CAF yang membahas panjang proses lelang. Saat itu, Motsepe menyebut keputusan soal pemenang tender akan diumumkan “dalam waktu yang sesuai”.
“Kami mengumumkan di Addis Ababa kemitraan senilai US$1 miliar yang kami bidik selama delapan tahun ke depan,” kata Motsepe kepada The Guardian. “Ada banyak kemajuan baik yang telah dicapai,” lanjutnya. Optimisme itu ternyata tidak bertahan lama setelah CAF mengubah haluan kebijakan.
Pada 23 Juli, empat hari setelah final Piala Dunia di New York, CAF membuka tender baru untuk hak pemasaran dan hak komersial Afcon edisi 2028, 2032, dan 2036. Para calon peserta lelang diberi waktu hingga 24 Agustus untuk menyerahkan buku penawaran. Langkah ini kontras dengan proses lelang 2025 yang menjual seluruh portofolio kompetisi CAF dalam satu paket.
Kronologi: Afcon Berubah Empat Tahunan dan Lelang 2025 Gagal
Kepala Komunikasi CAF, Luxolo September, mengonfirmasi bahwa perubahan frekuensi Afcon menjadi penyebab utama ditinggalkannya proses lelang 2025 yang nyaris rampung. Menurut September, CAF sebelumnya sudah masuk ke tahap diskusi mendetail dengan calon mitra yang masuk daftar pendek. Semua proses itu berhenti setelah komite eksekutif mengambil keputusan besar pada akhir 2025.
“Sebagaimana disampaikan presiden CAF dalam komentarnya tahun lalu, setelah menerima dan mengevaluasi tawaran serta presentasi dari para peserta, pada paruh kedua 2025 CAF mengadakan diskusi mendetail dengan kandidat yang masuk daftar pendek,” ujar September. “Namun, pada rapat 20 Desember 2025, komite eksekutif CAF mengambil keputusan bulat, demi kepentingan sepak bola Afrika, untuk memindahkan Afcon ke siklus empat tahunan,” tambahnya. “Ini adalah keputusan penting bagi sepak bola Afrika.”
September menjelaskan bahwa keputusan tersebut mengubah secara material ruang lingkup hak komersial yang ditawarkan. “Alhasil, proses Invitation To Tender (ITT) 2025 tidak dapat dilanjutkan dalam bentuknya yang sekarang,” tegasnya. Perubahan ini sekaligus menjadi alasan batalnya paket senilai US$1 miliar yang sempat dipublikasikan.
Dampak Finansial: CAF Sudah Tujuh Tahun Tanpa Kontrak Jangka Panjang
Dengan batalnya kesepakatan itu, CAF kini telah melewati tujuh tahun tanpa kontrak jangka panjang yang mengamankan masa depan keuangannya. Terakhir kali organisasi ini memiliki perjanjian besar adalah kontrak “minimum guarantee” senilai US$1 miliar untuk periode 2016-2028 bersama perusahaan Prancis, Lagardère. Kesepakatan yang ditandatangani pada era presiden Issa Hayatou itu merupakan kontrak pertama semacam ini bagi CAF.
Suketu Patel, mantan ketua komite keuangan CAF, mengungkapkan bagaimana kesepakatan dengan Lagardère terbentuk. “Nota kesepahaman dengan Lagardère disepakati oleh tim yang saya pimpin bersama Hicham El Amrani, sekretaris jenderal CAF saat itu, pada Mei 2015 di Zurich,” katanya dalam pernyataan 2019. “Pada hari yang sama, kami bertemu Infront, yang menawarkan jaminan minimum US$450 juta untuk delapan tahun, sementara Lagardère menawarkan US$1 miliar untuk 12 tahun.”
Dalam kesempatan itu, Patel juga menyinggung kontrak CAF pada 2009 yang hanya memiliki jaminan minimum US$150 juta, tetapi pendapatan aktualnya mencapai sekitar US$350 juta. Ia pun memperkirakan kontrak 12 tahun bersama Lagardère itu berpotensi menghasilkan sekitar US$1,3 miliar. Patel menambahkan, meski ia dan Hayatou kerap berbeda pandangan dalam soal politik, mereka tidak pernah berselisih soal pengelolaan keuangan CAF.
Malangnya, kontrak tersebut dihentikan sepihak pada Desember 2019, ketika Ahmad Ahmad menjabat presiden CAF menggantikan Hayatou. Sengketa hukum yang berlarut-larut di International Chamber of Commerce akhirnya diselesaikan melalui pembayaran kompensasi senilai US$50 juta. Dana itu dibayarkan CAF kepada Lagardère pada masa kepresidenan Motsepe, tepat sebelum Piala Dunia 2022 di Qatar. Sebagai gambaran, berikut jejak nilai kontrak komersial CAF yang sempat tercatat dalam berbagai periode.
- 2009: jaminan minimum US$150 juta, dengan pendapatan aktual sekitar US$350 juta.
- 2015: tawaran Infront senilai US$450 juta untuk delapan tahun.
- 2016-2028: kontrak Lagardère senilai US$1 miliar untuk 12 tahun, diproyeksikan menghasilkan US$1,3 miliar.
- 2022: pembayaran kompensasi US$50 juta kepada Lagardère.
Implikasi: Sponsor Dinilai Tak Mau Bayar Sama untuk Afcon yang Lebih Jarang
Perubahan frekuensi Afcon jelas berdampak pada nilai jual turnamen di mata sponsor. Seorang mantan presiden federasi sepak bola yang ahli dalam masalah keuangan menilai tidak ada sponsor yang bersedia membayar nominal sama untuk produk dengan frekuensi lebih jarang. “Tidak mungkin ada sponsor yang mau membayar jumlah yang sama untuk kesepakatan yang biasanya memuat empat Afcon dalam delapan tahun, padahal sekarang hanya ada dua. Itu sudah pasti,” ujarnya.
Di balik keputusan ini, CAF beralasan bahwa pergeseran ke siklus empat tahunan diperlukan untuk menyelaraskan Afcon dengan kalender pertandingan internasional. Keputusan ini diambil bulat oleh komite eksekutif dengan mengutamakan kepentingan sepak bola Afrika. Namun, dari sisi komersial, konsekuensinya tidak bisa dihindari: CAF harus menghadapi kenyataan bahwa minat sponsor bisa ikut menyusut.
Tender untuk Afcon 2028, 2032, dan 2036 kini menjadi ujian awal daya tarik format baru ini. Jika respons pasar dingin, CAF harus siap menyesuaikan target pendapatan. Sebaliknya, jika peminat tetap ramai, organisasi ini bisa segera mengunci kembali masa depan keuangannya.
Keputusan CAF menjadikan Afcon empat tahunan adalah langkah strategis yang berani, tetapi konsekuensinya langsung terasa di sisi finansial. Kontrak senilai US$1 miliar yang sempat diumumkan gagal dieksekusi, dan organisasi kini kembali memburu mitra komersial jangka panjang. Hasil tender untuk Afcon 2028, 2032, dan 2036 akan menjadi indikator awal apakah langkah ini sepadan dengan risiko yang diambil.
