Atmosfer Tetap Hidup di Tengah Kekecewaan
Pada Senin pagi, musik masih mengalun dari sejumlah bar di Calle Genova, sebuah jalan sempit di pusat Kota Meksiko yang jarang sepi. Meskipun jam baru menunjukkan pukul 11 siang, kerumunan orang sudah memadati trotoar, meneruskan pesta yang sepertinya tak pernah berhenti. Kaos tim nasional terpajang di mana-mana. Siapa pun yang tak mengikuti berita selama 15 jam mungkin akan menarik kesimpulan yang sangat berbeda tentang apa yang terjadi malam sebelumnya.
Namun kenyataan sesungguhnya lebih terlihat bagi siapa pun yang, setelah kembali dari Estadio Azteca, langsung menuju Paseo de la Reforma. Beberapa jam setelah Meksiko mengalahkan Ekuador di babak 16 besar, jalan raya besar itu dipenuhi lebih dari 1,4 juta orang yang merayakan momen nasional. Tapi kini jalan itu nyaris kosong hanya 3,5 jam setelah Inggris menghancurkan mimpi El Tri. Operasi pembersihan dari layar raksasa malam itu sudah berlangsung, dan para peraya yang tersisa terpaksa pindah ke jalan-jalan kecil.
Meski begitu, semangat Meksiko setelah kekalahan dari Inggris tetap terpancar. Perayaan memang berlanjut dengan lebih sederhana di luar arteri utama yang sepi, dan refleksi masyarakat sebagian besar bernada positif. Semua sepakat bahwa Meksiko telah mengerahkan segalanya dalam laga klasik Piala Dunia yang sesungguhnya. Ada rasa pahit-manis karena tim bermain cukup baik untuk meraih lebih, dan mungkin akan sukses jika Jordan Pickford tidak tampil sensasional untuk Inggris.
Pujian dari Media dan Presiden Meksiko
“Kemunduran yang akan menyakitkan selamanya,” tulis El Universal, salah satu surat kabar terbesar Meksiko, sembari memberi penghormatan kepada “performa epik melawan Inggris”. Perasaan yang mengemuka adalah bahwa Meksiko menjadi arsitek kekalahan heroik mereka sendiri, terutama karena pertahanan lemah yang memungkinkan Anthony Gordon memenangi penalti yang menentukan hasil pertandingan.
Presiden Meksiko, Claudia Sheinbaum, berusaha mempertahankan aura positif. “Kami telah menunjukkan kepada semua orang bahwa Meksiko adalah tuan rumah terbaik di dunia, dengan rakyat yang bahagia dan bersatu,” tulisnya di media sosial. Tentu, pernyataan itu sedikit lebih rumit mengingat krisis penculikan, kekerasan kartel, dan masalah sosial lain yang sering ditutupi oleh peristiwa olahraga bombastis. Namun bagian pertama pernyataan Sheinbaum sejalan dengan perasaan para penggemar Inggris, yang melaporkan terkesima oleh keramahan dan sportivitas tuan rumah dalam kekalahan.
Atmosfer Estadio Azteca yang Ramah
Stadion Azteca memang lebih dari sekadar mitos; pada Minggu malam stadion itu menghasilkan atmosfer yang membara dan mendesis. Tapi tidak ada permusuhan sungguhan terhadap tamu. Teriakan “Puta” setengah hati kepada sekelompok jurnalis yang memasuki stadion adalah satu-satunya tanda animositas. Suporter kedua kubu bercampur di koridor dan bar-bar di sekitar Paseo de la Reforma. Lagu dan foto bersama berlangsung hingga larut malam.
Bagi tim yang tampil rapi namun terbatas, peluit akhir juga menjadi akhir dari peran Meksiko sebagai tuan rumah bersama turnamen ini. Jika porsi besar yang dipegang Amerika Serikat merupakan jantung Piala Dunia 2026, maka Meksiko adalah jiwanya. Sepak bola sangat berarti di sini; ia mengakar dalam masyarakat, bukan sekadar aksesori hiburan. Bukan berarti mengecilkan upaya Amerika yang sebagian besar berhasil menciptakan pengalaman menyenangkan bagi para tamu. Namun, selama babak gugur, berada di Meksiko terasa menyegarkan jiwa.
Potensi Besar Meksiko di Piala Dunia
Namun Azteca akan kosong selama sisa musim panas; begitu pula stadion di Guadalajara dan Monterrey. Azteca memang tidak memiliki kilau dan perlengkapan bintang lima seperti stadion lain, tapi justru itulah yang membuatnya memesona. Masalah akses dan infrastruktur di sekitarnya sebagian besar sudah teratasi selama turnamen berlangsung. Tidak ada alasan monumen sepak bola ini tidak bisa bertahan lebih lama dari tim nasionalnya. Mungkin bagi pengunjung jarak jauh yang terpukau, “less is more” memang berlaku. Ada nilai dalam kelangkaan. Tapi apakah terlalu berlebihan jika Meksiko diberi kesempatan untuk bertahan setidaknya satu minggu lagi?
Semangat Meksiko setelah kekalahan dari Inggris juga menjadi pijakan bagi para pemain muda. Siapa pun yang menyaksikan Gilberto Mora, 17 tahun, mampu bertahan melawan Inggris dan mempermalukan Ekuador, pasti merasa sedang menyaksikan lahirnya bintang. Meksiko sering luput dari radar karena liga lokalnya yang bergaji tinggi dan penonton besar menjadi rumah nyaman bagi para talenta. Pemain yang ingin pindah seringkali dihargai terlalu mahal oleh klub yang tidak membutuhkan uang secara mendesak. Mobilitas dan eksposur lebih besar di divisi-divisi top Eropa akan membantu kawasan sepak bola yang berpenduduk 133 juta jiwa ini mewujudkan potensi raksasanya.
Kesimpulannya, meski tersingkir secara pahit, semangat Meksiko setelah kekalahan dari Inggris justru menunjukkan kekuatan karakter bangsa. Suporter tetap bangga, pemain muda mendapat sorotan, dan tuan rumah terbukti layak mendapatkan pujian sebagai yang terbaik. Ke depan, pengalaman ini bisa menjadi fondasi untuk kebangkitan sepak bola Meksiko di panggung dunia.
