Manchester United harus menelan pil pahit di awal musim setelah dikalahkan Hull City. Dua gol dari situasi bola mati yang tercipta hanya dalam rentang 21 menit sudah cukup untuk menjatuhkan tim asuhan Michael Carrick pada laga pembuka tersebut. Ironisnya, Hull justru mencatatkan sembilan gol dari set piece sepanjang musim lalu, jumlah yang sama-sama terendah di Championship.
Kekalahan ini tentu menjadi mimpi buruk bagi Setan Merah, tetapi yang lebih mengkhawatirkan adalah masalah lini serang Manchester United. Carrick sebenarnya sudah mengingatkan sebelum pertandingan bahwa laga ini tidak akan berjalan mudah, tetapi ia tentu tidak membayangkan Hull bisa menang senyamannya itu. Dengan segala perbedaan kualitas skuad dan ekspektasi, laga ini nyaris wajib dimenangkan United. Bahkan Opta memberikan peluang kemenangan bagi United sebesar 68,9 persen sebelum pertandingan dimulai.

Dua Gol Bola Mati yang Menjadi Awal Petaka
Ketidakmampuan United menghadapi Oli McBurnie sebagai target man menjadi pemandangan yang menyakitkan. Pemain depan Hull itu berulang kali merepotkan lini belakang United ketika bola diarahkan kepadanya. Dari situlah dua gol Hull lahir, memanfaatkan situasi bola mati yang seharusnya bisa diantisipasi lebih baik oleh para bek tamu.
Kendati kelengahan pertahanan pada set piece akan menjadi sorotan utama, masalah yang lebih besar justru ada di lini serang United. Pasalnya, Hull adalah tim yang paling jarang mencetak gol dari bola mati pada musim lalu, dengan catatan sembilan gol di Championship. Fakta bahwa mereka bisa mencetak dua gol dalam 21 menit menunjukkan betapa buruknya penjagaan United saat menghadapi situasi tersebut.
Masalah di Balik Angka xG Manchester United
Sekilas, statistik expected goals (xG) bisa memberikan gambaran yang menyesatkan. Hull hanya mencatatkan 1,01 xG, sementara United unggul dengan 1,83. Lantas, apakah pantas tim tamu dikatakan layak menang? Masalahnya justru terletak pada bagaimana peluang-peluang itu tercipta.
United melepaskan 21 tembakan, tetapi 16 di antaranya memiliki nilai peluang di bawah 0,1 xG. Ini artinya, sebagian besar tembakan United berasal dari posisi yang sulit dan tidak benar-benar membahayakan gawang Hull. Pola ini sebenarnya sudah menjadi tema musim lalu, meski tidak terlalu terlihat ketika tim tampil baik di bawah arahan Carrick.
Pada musim 2025-26, tembakan dari permainan terbuka United rata-rata hanya bernilai 0,104 xG, menjadikannya catatan terburuk ketiga di antara tim-tim papan atas Premier League. Melawan Hull, angkanya justru turun ke 0,087. Jadi, wajar jika pertahanan Hull yang bukan tim solid di Championship mampu meredam serangan United tanpa kesulitan berarti.
Peluang Berkualitas yang Tak Kunjung Muncul
Baru pada menit ke-78, peluang yang benar-benar layak akhirnya hadir untuk United, yaitu ketika Bryan Mbeumo menerima umpan terobosan dari Matheus Cunha. Sebelum momen itu, peluang dengan nilai tertinggi justru jatuh ke kaki Patrick Dorgu dan Noussair Mazraoui. Dorgu memang punya pengalaman sebagai winger dan sempat mengisi posisi trio penyerang di belakang striker dalam formasi 4-2-3-1, tetapi keduanya hanya punya koleksi 16 gol di kasta tertinggi.
Mazraoui dan Dorgu jelas bukan konverter peluang yang bisa diandalkan. Di sinilah kehadiran Marcus Rashford seharusnya bisa menjadi pembeda. Rashford diyakini lebih kuat dan secara natural layak menggantikan posisi Dorgu dalam jangka panjang, dengan asumsi ia masih bertahan di klub.
Insting menyerang Rashford mungkin bisa membantu United menciptakan peluang yang lebih baik di babak pertama. Namun, yang lebih memprihatinkan, United kesulitan membangun peluang berharga melawan tim yang justru mencatatkan xG kebobolan tertinggi kedua di Championship musim 2025-26. Ini sinyal yang sangat mengkhawatirkan bagi lini serang United.
Taktik Lima Bek Hull dan Pola yang Selalu Merepotkan
Manajer Hull, Sergej Jakirovic, tampil dengan formasi lima bek pada laga ini. Musim lalu, ia tercatat 10 kali menggunakan tiga bek tengah, termasuk saat menang di leg kedua semifinal play-off melawan Millwall dan di final melawan Middlesbrough. Pola ini terbukti berhasil melumpuhkan United, dengan tambahan pemain di lini belakang membuat para penyerang tamu kesulitan menembus pertahanan.
Peta tembakan Opta menunjukkan Hull hanya kebobolan delapan tembakan dari zona bahaya, yaitu area tengah kotak penalti yang membentang dari lebar kotak enam yard hingga batas 18 yard. Dari delapan peluang tersebut, lima di antaranya berupa sundulan yang memang lebih sulit dikonversi menjadi gol. Dengan kata lain, ruang di area paling berbahaya sangat terbatas dan United tidak mampu menembusnya.
Pola semacam ini sebenarnya sudah sering merepotkan United. Dari enam pertandingan liga terakhir melawan tim yang memakai tiga atau lima bek, United hanya menang sekali. Leeds menang 2-1 di Old Trafford pada April dengan formasi 3-4-3, lalu bermain imbang 1-1 dalam laga pramusim dua pekan lalu. Milan juga memakai kerangka yang sama saat mengalahkan United 4-2 pada laga pemanasan terakhir.
Pernyataan Carrick dan Masalah Lini Serang yang Menanti
Carrick menegaskan bahwa kekalahan ini menyakitkan, tetapi tidak akan mengubah arah perjalanan tim secara keseluruhan. “Kami kalah, kami terluka dan itu bukan perasaan yang menyenangkan. Itu tidak berarti akan mengubah seluruh arah kami sebagai tim atau klub sepak bola,” ujar Carrick. Sikap ini memang wajar untuk menjaga ritme kerja jangka panjang tim.
Meski pendekatan jangka panjang yang diambil Carrick terdengar masuk akal, performa lini serang United tetap butuh perbaikan serius. Kekalahan dari Hull bukan sekadar kebetulan yang bisa dianggap angin lalu. Ada banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, terutama dalam hal kualitas peluang yang diciptakan dan kreativitas di sepertiga akhir lapangan.
Kekalahan dari Hull menjadi alarm awal yang layak diperhatikan MU. Meski banyak yang menyoroti buruknya penyelesaian akhir, kenyataan menunjukkan akar masalahnya justru pada kualitas penciptaan peluang. Jika Carrick ingin musim ini berjalan lebih baik, perbaikan lini serang harus menjadi prioritas utama.