Perjalanan Seorang Anak East Vancouver Menuju Elite Sepak Bola Dunia
Victor Montagliani, pria kelahiran East Vancouver tahun 1960, kini duduk sebagai Presiden Concacaf sekaligus salah satu wakil presiden FIFA yang paling berpengaruh. Namun, di balik posisinya yang prestisius, sederet kontroversi mengiringi langkahnya—mulai dari dugaan penutupan kasus pelecehan seksual hingga kesepakatan bisnis yang dianggap merugikan sepak bola Kanada. Bagaimana kisahnya?
Awal Karier: Dari Klub Lokal ke Panggung Internasional
Montagliani tumbuh di lingkungan imigran dan bermain untuk Columbus FC, klub yang didirikan ayahnya. Setelah cedera pergelangan kaki mengakhiri karier bermainnya, ia mengambil jurusan ilmu politik di universitas dan sempat bekerja sebagai pramugari sebelum beralih ke asuransi. Pada 2002, ia mulai terlibat dalam administrasi sepak bola dengan bergabung di Vancouver Metro Soccer League.
Dalam waktu singkat, Montagliani menjabat Presiden BC Soccer dan anggota dewan Canada Soccer. Pada 2012, ia terpilih sebagai Presiden Canada Soccer. Di sinilah ambisinya mulai terbentuk. Ia bertemu Walter Sieber, mantan administrator Olimpiade, yang menyarankan Kanada mengajukan tuan rumah Piala Dunia. Montagliani langsung menyetujui ide itu.
Momen Kunci: Skandal Korupsi Concacaf 2015
Saat berada di Zurich pada 27 Mei 2015, Montagliani dikejutkan oleh telepon dari Sunil Gulati, Presiden Federasi Sepak Bola AS. Swiss menggerebek hotel Baur-Au-Lac dan menangkap pejabat sepak bola atas tuduhan penipuan dan pemerasan. Penangkapan itu termasuk Presiden Concacaf, Jefferey Webb, yang kemudian digantikan oleh Alfredo Hawit—yang hanya bertahan enam bulan sebelum ditangkap atas tuduhan serupa.
Montagliani dipercaya memimpin komite sementara Concacaf selama satu tahun. Pada 2016, ia mencalonkan diri sebagai presiden dan menang, menjadi orang non-Karibia pertama yang memegang jabatan itu sejak 1969. Kemenangan ini mengantarkannya menjadi salah satu dari delapan wakil presiden FIFA yang sangat berpengaruh.
Kontroversi Besar: Kasus Bob Birarda dan Tuduhan Penutupan
Pada 2021, pemain tim wanita Vancouver Whitecaps menuntut agar Montagliani diskors karena kegagalan Canada Soccer menangani tuduhan terhadap Bob Birarda, pelatih yang akhirnya dipenjara karena kejahatan seksual. Para pemain sebelumnya telah melaporkan kekhawatiran mereka pada 2008. Setelah penyelidikan singkat, Canada Soccer mengumumkan perpisahan dengan Birarda dengan “harapan terbaik” tanpa menyebutkan alasan sebenarnya.

Dalam pertemuan yang dipimpin Montagliani, pemain diberi tahu bahwa kepergian Birarda karena alasan kesehatan. Tidak ada penyebutan tuduhan serius atau hasil investigasi. Birarda terus melatih wanita dan anak perempuan selama sepuluh tahun berikutnya. Laporan McLaren 2022 yang didanai Canada Soccer menyimpulkan bahwa “Canada Soccer gagal memutuskan hubungan dengan Birarda, memberinya kesempatan untuk terus menempatkan pemain lain dalam risiko.”
Montagliani membantah tuduhan penutupan, mengklaim bahwa ia tidak mengetahui kedalaman perbuatan Birarda. Ia berpendapat bahwa tuduhan ditangani secara serius, dan baik Concacaf maupun FIFA selalu menjauhkannya dari kasus Birarda. Namun, mantan pemain menyebutnya sebagai “penutup predator seksual.”
Kontroversi Bisnis: Canada Soccer Business (CSB)
Tak lama setelah menjabat Presiden Canada Soccer, Montagliani menjadi arsitek utama Canada Soccer Business (CSB), perusahaan swasta yang mengelola hak media dan pemasaran federasi. Pemilik CSB juga memiliki Canadian Premier League dan layanan streaming OneSoccer. Berdasarkan perjanjian, CSB mendapatkan hak eksklusif untuk menjual hak siar dan sponsor hingga 2037—dengan imbalan hanya 3 juta dolar pada 2019, meningkat sekitar 500.000 dolar per tahun.
Kesepakatan ini menuai kritik tajam karena dianggap sangat timpang. Menurut bukti dalam penyelidikan parlemen Kanada 2023, perjanjian tersebut menimbulkan bendera merah besar dalam tata kelola. Montagliani bersikeras bahwa ia tidak terlibat setelah pindah ke Concacaf, dan prinsip perjanjian itu tidak berbeda dari praktik di seluruh dunia.
Pada Februari 2025, kesepakatan ini dinegosiasikan ulang oleh CEO Canada Soccer yang baru. Hasilnya, Canada Soccer kini menerima “lebih dari 100 juta dolar” dalam kontrak 12 tahun, menunjukkan bahwa uang sebenarnya sudah ada—hanya saja tidak mengalir ke jalur yang menguntungkan sepak bola secara luas.
Ambisi Piala Dunia dan Puncak Karier
Montagliani berhasil membawa Piala Dunia 2026 ke Amerika Utara melalui tawaran bersama AS dan Meksiko. Ia mengakui bahwa ia berbicara blak-blakan kepada Gulati, mengatakan bahwa FIFA tidak peduli pada stadion atau uang, tetapi pada bagaimana mereka diperlakukan. “Kami bisa menambahkan sirup maple dan churros ke sikap Anda, dan kami akan menang,” katanya.
Vancouver, yang sempat keluar dari dokumen tawaran karena masalah biaya, akhirnya kembali masuk setelah Montreal mundur pada 2021. Kota ini menjadi tuan rumah FIFA Congress pada April 2025 dan akan menggelar dua pertandingan Piala Dunia.
Masa Depan: Calon Presiden FIFA?
Montagliani terpilih kembali secara aklamasi sebagai Presiden Concacaf pada 2023, dengan masa jabatan berakhir 2027. Ia bersikap hormat kepada Presiden FIFA Gianni Infantino, namun tidak menutup kemungkinan untuk mencalonkan diri pada 2031. “Masa depan akan seperti apa adanya,” katanya. Kemenangan besar tahun ini—Piala Dunia yang sukses—bisa membawanya selangkah lebih dekat ke jabatan tertinggi sepak bola dunia.
Kesimpulan: Pujian, Loyalitas, dan Kritik
Montagliani dikenal sebagai pemimpin yang loyal. Teman-teman lamanya duduk di komite FIFA, dan ia mendukung orang-orang yang sevisi. Namun, kritik tajam datang dari mantan pemain, aktivis HAM, dan pengamat tata kelola. Hubungan Concacaf dengan Arab Saudi—melalui Public Investment Fund, Aramco, dan Riyadh Air—dituduh sebagai “sportswashing” untuk menutupi pelanggaran HAM. Montagliani tetap teguh: “Saat Anda memerintah dan mengelola organisasi, Anda akan mendapat kritik. Itu bagian dari pekerjaan.”
Apakah ia akan mencapai puncak FIFA pada 2031? Dengan rekam jejak kontroversial namun koneksi global yang kuat, Victor Montagliani tetap menjadi salah satu tokoh paling menarik—dan paling diperdebatkan—dalam sepak bola modern.
