Liverpool memasuki musim Women’s Super League (WSL) 2026-27 dengan optimisme baru setelah menjalani kampanye 2025-26 yang mengecewakan. Rata-rata prediksi para penulis Guardian menempatkan skuad asuhan Gareth Taylor ini di peringkat kedelapan, naik tiga tingkat dari posisi akhir musim lalu. Keyakinan itu lahir dari jendela transfer musim panas yang produktif serta hasil-hasil positif yang diraih tim selama pramusim.
Musim lalu Liverpool nyaris terpuruk di dasar klasemen sebelum akhirnya menemukan ritme di paruh kedua kompetisi. Gareth Taylor baru mengambil alih tim pada akhir musim panas, terlambat untuk mempersiapkan musim dengan matang. Musim ini ia mendapat pramusim penuh, sementara managing director Andy O’Boyle telah melewati tiga jendela transfer untuk membentuk ulang skuad.

Prediksi Liverpool di WSL 2026-27
Berdasarkan rata-rata prediksi para penulis Guardian, Liverpool diperkirakan finis di peringkat kedelapan klasemen akhir WSL 2026-27. Catatan itu jelas lebih baik dibandingkan musim lalu ketika mereka terdampar di posisi ke-11. Meski begitu, sudah menjadi rahasia umum bahwa Liverpool masih jauh dari persaingan memperebutkan tiket ke kompetisi Eropa.
Skuad asuhan Gareth Taylor dinilai lebih dari cukup untuk menjauh dari zona degradasi. Anggaran belanja mereka, bagaimanapun, masih kalah jauh dibandingkan klub-klub raksasa seperti Arsenal, Chelsea, dan Manchester City. Karena itu, target yang paling realistis untuk Liverpool musim ini adalah finis di papan tengah.
Liverpool juga ingin memperbaiki start buruk yang mereka alami musim lalu, ketika kemenangan liga pertama baru datang pada akhir Januari. Tandang ke markas tim promosi Charlton di pekan pembuka dianggap sebagai kesempatan bagus untuk langsung mengamankan tiga poin. Momentum positif sejak awal diharapkan bisa membawa mereka terbang lebih tinggi.
Latar Belakang: Kebangkitan Liverpool di Paruh Kedua Musim Lalu
Gareth Taylor baru mengambil alih Liverpool pada akhir musim panas 2025, waktu yang hampir tidak memberinya kesempatan untuk membangun tim. Skuad yang diwarisinya masih membutuhkan banyak perombakan, sehingga wajar jika Liverpool menjalani start yang sangat lambat. Kemenangan perdana liga mereka bahkan baru terwujud pada akhir Januari.
Namun setelah itu, performa Liverpool berubah drastis dan mereka menutup musim dengan catatan positif. Liverpool mengumpulkan 11 poin lebih banyak di paruh kedua musim dibandingkan paruh pertama, selisih peningkatan terbesar di antara semua tim WSL. Jika raihan 11 pertandingan terakhir itu digandakan, total 28 poin akan cukup untuk menempatkan mereka di peringkat keenam.
Salah satu kunci kebangkitan itu adalah penjaga gawang Swedia, Jennifer Falk, yang tampil luar biasa selama masa pinjamannya. Namun Falk memilih tidak memperpanjang masa tinggalnya karena ingin dekat dengan keluarga. Liverpool pun kehilangan sejumlah pemain penting lain, termasuk bek tengah Gemma Bonner.
Analisis Skuad: Kekuatan dan Tanda Tanya Liverpool
Liverpool bergerak cukup agresif di bursa transfer musim panas ini dengan mendatangkan nama-nama baru di beberapa lini. Kehadiran mereka diharapkan langsung menambah kualitas tim secara instan. Beberapa rekrutan kunci yang patut disorot antara lain:
- Vivien Endemann – penyerang timnas Jerman yang direkrut dari Wolfsburg dengan rekam jejak mentereng di Bundesliga.
- Khiara Keating – kiper muda yang dipersatukan kembali dengan Gareth Taylor, meski pengalamannya belum sebanyak Jennifer Falk.
- Mao Itamura – penyerang serba bisa asal Jepang berusia 20 tahun yang didatangkan dari Feyenoord dan dinobatkan sebagai pemain terbaik Eredivisie musim lalu.
Meski demikian, ada sejumlah kekhawatiran yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Liverpool kehilangan bek tengah andalan Gemma Bonner, sehingga lini pertahanan harus dibangun hampir dari nol. Kepergian Jennifer Falk yang memilih kembali ke Swedia demi dekat dengan keluarga juga meninggalkan lubang besar di posisi penjaga gawang. Khiara Keating diharapkan mampu mengisi kekosongan tersebut meski pengalamannya masih terbatas.
Secara keseluruhan, komposisi skuad Liverpool musim ini dinilai lebih dari cukup untuk bertahan di WSL. Namun kedalaman tim mereka masih menjadi tanda tanya besar jika dibandingkan dengan klub-klub papan atas. Target yang paling realistis adalah konsisten berada di papan tengah dan tidak perlu terlibat dalam perebutan posisi aman di akhir musim.
Situasi di Luar Lapangan dan Faktor Finansial
Salah satu tantangan terbesar Liverpool adalah dukungan finansial dari pemilik, Fenway Sports Group (FSG), yang tidak sebesar suntikan dana yang diterima tim putri Arsenal, Chelsea, atau Manchester City. Dalam delapan musim terakhir digabungkan, Liverpool justru membukukan keuntungan lebih dari £500.000 dan konsisten berada di titik impas. Ini menunjukkan bahwa tim putri Liverpool dijalankan dengan prinsip mandiri secara finansial.
Di sisi lain, Liverpool memiliki fasilitas kelas dunia di pusat latihan Melwood yang menjadi daya tarik tersendiri. Fasilitas modern ini menjadi bukti komitmen jangka panjang klub terhadap pengembangan tim putri. Kombinasi pengelolaan keuangan yang sehat dan fasilitas berkualitas menjadi fondasi yang solid untuk tumbuh secara berkelanjutan.
Soal kandang, Liverpool memainkan mayoritas laga kandangnya di St Helens Stadium yang berkapasitas sekitar 18.000 penonton dan berbagi dengan klub rugby league. Musim ini mereka juga akan bermain tiga kali di Anfield, dengan laga pertamanya adalah derbi melawan Everton pada September. Momen tersebut tentu menjadi magnet tersendiri bagi para suporter dan menambah gairah tim.
Gareth Taylor dan Bintang Baru Liverpool
Gareth Taylor adalah pelatih dengan karier yang mengesankan di sepak bola putri Inggris. Pelatih berusia 53 tahun ini pernah membawa Manchester City meraih Piala FA Putri 2020 dan Piala Liga 2022, serta nyaris menjuarai liga. Sebagai mantan striker timnas Wales, ia juga punya pengalaman bermain di banyak klub seperti Bristol Rovers, Nottingham Forest, Wrexham, Sheffield United, dan Manchester City.
Namun, Taylor belum sepenuhnya memenangkan hati para pendukung Liverpool. Musim ini ia dituntut memperlihatkan gaya bermain yang lebih jelas dan konsisten dari tim asuhannya. Hasil positif di pramusim bersama rekrutan anyar diharapkan mampu mengubah penilaian itu.
Bintang baru yang paling dinanti tentu saja Vivien Endemann. Penyerang berusia 25 tahun itu punya catatan bagus di Bundesliga, mengoleksi 17 penampilan untuk timnas Jerman, dan membantu negaranya meraih medali perunggu di Olimpiade 2024. Endemann juga pernah memenangkan Piala Jerman bersama Wolfsburg pada 2024 dan memiliki pengalaman di Liga Champions Wanita, sehingga kualitasnya tidak perlu diragukan lagi.
Pemain Muda Bersinar dan Pandangan dari Dalam Tim
Satu nama yang diprediksi bersinar musim ini adalah Mao Itamura. Penyerang serba bisa berusia 20 tahun ini baru saja dinobatkan sebagai pemain terbaik Eredivisie musim lalu bersama Feyenoord. Dengan kemampuan dribelnya yang luar biasa, Itamura diharapkan memberikan dimensi baru yang segar di lini serang Liverpool.
Statistik juga menunjukkan bahwa Liverpool sedang berada di jalur yang benar. Perbaikan poin mereka di paruh kedua musim lalu merupakan yang terbaik di WSL, membuktikan tim ini punya mentalitas pantang menyerah. Dengan tambahan pemain baru dan pramusim yang lebih matang, Liverpool seharusnya bisa menghindari start buruk seperti musim lalu.
Penyerang Liverpool dan timnas Swiss, Aurélie Csillag, turut menyampaikan optimismenya menjelang musim baru. Ia menegaskan bahwa timnya ingin berada di paruh atas klasemen karena yakin memiliki pemain-pemain berkualitas. “Kami ingin berada di paruh atas klasemen karena kami punya pemain yang benar-benar bagus dan saya pikir kami bisa menunjukkan kemampuan kami. Saya percaya pada setiap orang di tim ini. Kami punya peluang bagus untuk menjalani musim yang hebat, dan kami semua merasakan perasaan baik itu; saya bisa merasakannya dalam latihan,” ujarnya.
Secara keseluruhan, Liverpool datang ke WSL 2026-27 dengan modal yang jauh lebih baik dibandingkan musim lalu. Kombinasi pelatih yang punya waktu persiapan penuh, rekrutan menjanjikan seperti Vivien Endemann dan Mao Itamura, serta momentum positif dari paruh kedua musim lalu menjadi bekal berharga. Liverpool mungkin belum mampu bersaing memperebutkan gelar, tetapi target papan tengah sesuai prediksi Guardian adalah pencapaian yang sangat masuk akal.
Dengan laga pembuka tandang ke Charlton dan derbi melawan Everton di Anfield yang sudah menanti, Liverpool punya kesempatan untuk langsung menunjukkan taringnya sejak awal. Jika mampu mempertahankan performa seperti paruh kedua musim lalu, bukan tidak mungkin mereka melampaui ekspektasi. Musim ini adalah momentum yang tepat bagi Liverpool untuk membuktikan bahwa tempat mereka di WSL bukan sekadar pelengkap.