Keputusan Bellerín meninggalkan Arsenal memang tidak pernah terasa ringan. Bek kanan Real Betis itu mengaku masih menyimpan cinta yang sangat besar untuk klub yang membentuk kariernya, dan ia kini bersiap menghadapi The Gunners untuk pertama kalinya sejak pergi. Laga pramusim di Aviva Stadium, Dublin, akan menjadi pertemuan emosional bagi pemain berusia 31 tahun itu. Sebelumnya, ia nyaris melakoni laga itu saat dipinjamkan ke Sporting, tetapi cedera lutut menghadang pada waktu yang terasa terlalu pas.
Bellerín bukan sekadar mantan pemain Arsenal. Ia menghabiskan lebih dari satu dekade di London, tumbuh dari remaja asal Barcelona menjadi bek sayap yang dikenal dunia. Sekarang, Arsenal yang akan ia hadapi adalah tim juara Premier League yang diasuh oleh Mikel Arteta, kawan lamanya. Dalam sebuah wawancara di kawasan barat Dublin, ia bercerita panjang soal Arteta, kenangan kecil yang tak terlupakan, serta perasaan campur aduk saat meninggalkan klub yang ia anggap rumah.

Mikel Arteta, Mentor di Balik Awal Karier Bellerín
Ketika Bellerín berusia 18 atau 19 tahun, Arteta mengundangnya ke rumah dan duduk bersamanya bersama seorang penasihat keuangan. Mereka bertanya berapa banyak uang yang ia habiskan untuk pakaian, mobil, dan berbagai hal lain. Bellerín mengaku sengaja menyebut angka yang rendah karena malu, tetapi justru pulang dengan pelajaran tentang kerendahan hati dan rasa peduli.
Bagi Bellerín, Arteta adalah pemain pertama yang membuatnya merasa dirinya berarti. “Kalau suatu hari kamu melakukan hal yang sama untuk rekan setim, aku akan senang,” begitu pesan Arteta yang terus dikenangnya. Pelajaran itu ia coba teruskan kepada pemain muda yang berlatih bersamanya, termasuk José Antonio Morante, pemain sayap 19 tahun yang setiap hari menghadapinya di lapangan.
Alasan Bellerín Meninggalkan Arsenal
Proses Bellerín meninggalkan Arsenal tidak terjadi dalam sekali duduk. Ia mengaku sudah ada banyak percakapan dengan Arteta sejak setahun sebelum keputusan itu dibuat. Peran mereka yang semula rekan setim berubah menjadi pelatih dan pemain, dan transisi itu terasa aneh meski tetap terbuka.
Bellerín tidak menyebut satu pemicu tunggal. Baginya, ada semacam keterputusan: ia merasa tidak lagi bisa membantu klub, dan klub pun tidak lagi bisa membantunya. “Ketika kau meninggalkan klub seperti Arsenal, rasanya menakutkan. Sakit,” katanya, karena klub itu adalah rumahnya selama sepuluh tahun dan ia harus meninggalkan teman-teman serta kehidupan yang sudah dibangun.
Kenangan Bellerín di London: Dari Keluarga Twitching Sampai Oyster Card
Bellerín tiba di London pada usia 16 tahun bersama Jon Toral, rekan setimnya sejak delapan tahun. Mereka tinggal di Enfield bersama keluarga Twitching: Donna, John, Tia, dan Ben. Ia merasa tidak terlalu dilindungi, tetapi juga tidak ditinggalkan; setiap hari ia harus naik dua bus dan tube untuk sampai ke tempat latihan.
Direktur akademi saat itu, Liam Brady, memberi mereka kartu Oyster sebagai hadiah pertama. Dengan penghasilan sekitar €400 per bulan, Bellerín dan Toral merasakan kemerdekaan yang sesungguhnya. Mereka menjelajahi Camden, Covent Garden, hingga Brixton untuk bermain biliar, dan semua pengalaman itu ikut membentuk kepribadiannya.
Ada juga kenangan manis dengan Tomas Rosicky, yang dengan baik hati mengajarinya cara mengalahkan Rosicky di latihan. Ia dekat dengan Santi Cazorla dan Nacho Monreal, bahkan sempat membayangkan mereka bertiga menonton pertandingan Arsenal bersama. Ketika Arsenal akhirnya juara liga, banyak orang mengiriminya pesan dan ia merasa tetap menjadi bagian dari perayaan itu.
Nilai, Aktivisme, dan Hidup Bellerín di Seville
Di Betis, Bellerín menemukan banyak hal yang selama ini ia cari di luar sepak bola. Ia bisa bersepeda ke tempat latihan, mengikuti kelas menulis, mendesain busana, serta menjalani gaya hidup vegan dan aktivisme lingkungan. Beberapa pilihan itu memang tidak biasa untuk pemain sepak bola, tetapi justru itulah yang membuatnya merasa utuh:
- Hidup sederhana dengan bersepeda ke latihan setiap hari.
- Menekuni kelas menulis dan desain busana di sela aktivitasnya sebagai atlet.
- Konsisten menyuarakan kepedulian terhadap lingkungan dan gaya hidup vegan.
- Berani mengkritik budaya toksik maskulinitas serta keserakahan industri sepak bola.
Yang paling ia hargai dari Betis adalah ruang ganti dengan hubungan yang horizontal. Ia merasa hubungan antara pemain dan karyawan di sana lebih sederajat dibanding klub sebelumnya. Itu sejalan dengan nilai-nilainya dan menjadi alasan ia betah.
Meski begitu, Bellerín tidak menutup mata pada sisi gelap sepak bola. Ia mengaku sering dibuat “mendidih” oleh praktik industri yang menurutnya menjadi puncak keserakahan. Namun, ia tetap mencintai permainan ini, mengaku “kecanduan”, dan berkomitmen penuh pada sepak bola.
Arsenal dan Betis: Dua Klub yang Saling Diuntungkan
Bellerín menganggap kepindahannya ke Betis menguntungkan kedua belah pihak. Arsenal kini berada di puncak, sementara Betis juga tampil di Liga Champions dan meraih trofi. Ia merasa berada dalam momen yang sangat baik dan yakin keputusannya saat itu memang tepat.
Meski ada rasa sakit setelah final Liga Champions, Bellerín menegaskan hal itu tidak boleh menutupi pencapaian Arsenal. Menurutnya, Arsenal sudah ada di tempat yang pantas dan sedang menikmati masa yang manis. Karenanya, pertandingan melawan Arsenal terasa istimewa karena ia akan bertemu dengan tim terbaik Eropa saat ini.
Berhadapan dengan Arsenal: Pulang ke Rumah yang Berbeda
Bagi Bellerín, pertandingan ini bukan sekadar laga pramusim biasa. Banyak pemain yang ia kenal sejak kecil masih ada di sana, mulai dari Bukayo Saka, Ben White, hingga staf dan pelatih. Ia mengaku masih merasakan Arsenal sebagai keluarga dan mengirimkan rasa sayang yang besar kepada mereka.
Meski sudah menemukan ketenangan di Betis, pengalaman di London tetap menjadi fondasi hidupnya. “London memberi ruang bagiku untuk berkembang dan menjelajahi hidup,” ujarnya. Maka ketika nanti ia melangkah keluar dari terowongan pemain di Aviva Stadium, boleh jadi ada senyum dan haru yang tidak bisa ia sembunyikan.
Bellerín meninggalkan Arsenal dengan kepala tegak, karena tahu keputusan itu benar untuk semua pihak. Kini, satu-satunya yang tersisa adalah rasa terima kasih dan cinta yang tidak pernah pudar. Duel melawan mantan klub akan menjadi pengingat bahwa terkadang meninggalkan rumah justru membuat seseorang semakin memahami arti rumah itu sendiri.