Emilie Joramo akhirnya berada di tempat yang sejak lama ia impikan: Brighton & Hove Albion di Women’s Super League (WSL). Gelandang berusia 24 tahun asal Norwegia itu bergabung dengan Brighton secara gratis di akhir Juni setelah kontraknya bersama Hammarby habis. Ia mengaku sudah lama mengikuti WSL dari jauh, tetapi sengaja menahan diri agar tidak pindah terlalu dini.
Keputusan untuk meninggalkan Skandinavia tidak diambil buru-buru. Joramo ingin memastikan dirinya siap secara fisik dan mental sebelum mencoba peruntungan di liga yang dianggapnya terbaik di dunia. Ketertarikan Brighton yang sudah berlangsung lama, ditambah pembicaraan positif dengan manajer Dario Vidosic, membuat keyakinannya makin kuat untuk menerima tantangan baru di pantai selatan Inggris.

Perjalanan Emilie Joramo ke Brighton: dari Skandinavia ke WSL
Kepindahan Joramo ke Brighton adalah puncak dari proses panjang yang ia jalani dengan sabar. Ia sempat menolak untuk memaksakan diri pindah ke WSL lebih awal karena merasa belum siap secara fisik dan mental. Pengalaman bermain reguler bersama Hammarby dan Rosenborg menjadi bekal penting sebelum tiba di Inggris.
Di Rosenborg, Joramo membantu tim memenangkan Piala Norwegia untuk pertama kalinya dalam 21 tahun. Sementara bersama Hammarby, ia menikmati masa-masa menyenangkan dan membawa tim tampil di final Europa Cup musim lalu. Ia merasa tumbuh baik sebagai pemain maupun pribadi selama berada di Swedia, dan itu membuatnya yakin bahwa usia 24 tahun adalah waktu yang tepat untuk melangkah lebih jauh.
Gaya Bermain Emilie Joramo: Keras, Tenang, dan Berorientasi Tim
Joramo menggambarkan dirinya sebagai pemain pekerja keras yang selalu memberikan seratus persen di setiap kesempatan. Ia tidak bisa tampil setengah-setengah, entah itu lima puluh, enam puluh, atau tujuh puluh persen. Ia senang memiliki bola dan ingin membangun permainan bersama rekan setimnya, bukan sekadar mengirim bola ke belakang.
Gaya bermain seperti ini sejalan dengan filosofi Dario Vidosic yang mengutamakan penguasaan bola. Joramo merasa cocok karena ia ingin bermain dalam tim yang membangun serangan bersama-sama, bukan hanya mengandalkan individu. Pelatih Brighton itu juga ingin timnya bermain dengan ide yang sama, sehingga Joramo merasa nilai dan ambisinya terwakili.
- Pekerja keras dan selalu memberi seratus persen di setiap pertandingan.
- Percaya diri memegang bola dan membangun serangan dari awal.
- Senang berpikir beberapa langkah ke depan serta membangun hubungan antarpemain.
- Punya motivasi besar untuk terus berkembang di lingkungan yang lebih kompetitif.
Tantangan Baru di WSL: Lebih Cepat dan Lebih Intens
Joramo sadar bahwa WSL adalah level yang lebih tinggi dari liga Swedia. Ia menilai permainan di Inggris berjalan lebih cepat, intensitasnya lebih besar, dan waktu untuk mengambil keputusan saat membawa bola jauh lebih singkat. Kondisi itu membuatnya merasa Brighton adalah tempat yang sempurna untuk mengembangkan kelebihan sekaligus memperbaiki kelemahan.
Meski begitu, awal kehidupannya di Brighton sempat terasa berat. Ia harus mengenal banyak orang baru, dan staf klub di Brighton jauh lebih besar daripada yang pernah ia alami, termasuk kehadiran lima fisioterapis yang sebelumnya hanya satu. Namun semua orang menyambutnya dengan hangat, dan kesan pertamanya terhadap sesi latihan di bawah Vidosic sangat positif.
Joramo baru menjalani dua sesi latihan bersama Vidosic, tetapi sudah bisa merasakan kualitas taktik pelatihnya. Ia melihat Vidosic sangat paham cara kerja permainan dan bagaimana memainkan sepak bola yang baik. Hal itu penting baginya karena ia adalah pemain yang selalu ingin terus belajar dan berkembang.
Kehidupan di Brighton: Dari Pegunungan ke Pantai
Adaptasi Joramo tidak hanya terjadi di dalam lapangan. Ia membawa serta pasangannya ke Inggris, dan kehadiran orang terdekat itu membuat transisi kehidupannya jauh lebih mudah. Di luar sepak bola, mereka mulai menjelajahi kota dan mengunjungi pantai, sesuatu yang sangat berbeda dari kehidupan Joramo yang terbiasa dengan pegunungan dan hutan di Norwegia.
Cuaca hangat yang sedang berlangsung membuatnya merasa seperti sedang berlibur. Meski begitu, Joramo menegaskan bahwa ia butuh kegiatan lain selain sepak bola untuk menjaga keseimbangan. Kebiasaan ini membantunya beradaptasi lebih cepat dengan lingkungan baru di Brighton.
Target Musim Ini dan Peluang di Timnas Norwegia
Untuk musim ini, Joramo menargetkan kontribusi maksimal untuk Brighton dan ingin bermain sebanyak mungkin. Ia sadar perlu memberi waktu bagi dirinya untuk menyesuaikan diri dengan intensitas pertandingan di Inggris. Meski termasuk pemain yang tidak sabaran, ia memahami bahwa proses adaptasi harus dijalani secara bertahap.
Di level internasional, Joramo debut untuk tim senior Norwegia pada 2022 dan sejauh ini mencatat tiga penampilan bersama tim utama, selain tampil untuk tim U-23. Pada bulan April, ia duduk di bangku cadangan dalam dua pertandingan kualifikasi yang dimenangkan Norwegia atas Slovenia. Ia berharap penampilannya di Brighton bisa membuka jalan menuju skuad utama Norwegia.
Peluang tampil di Piala Dunia Wanita 2027 juga terbuka jika Norwegia melewati play-off dua leg melawan Rumania, lalu menghadapi Albania atau Wales. Joramo yakin bahwa bermain di liga terbaik dunia akan memperkuat peluangnya bersama tim nasional. Ia percaya jika mampu tampil di WSL, itu berarti ia telah melakukan banyak hal dengan benar.
Kesabaran Joramo dalam menunggu momen yang tepat akhirnya membawanya ke tempat yang selama ini ia idamkan. Dengan lingkungan baru yang mendukung, pelatih yang sepaham, serta motivasi kuat untuk terus berkembang, ia punya modal besar untuk bersinar di Brighton. Musim ini akan membuktikan apakah kepindahan dari Skandinavia itu menjadi langkah karier yang tepat.