Janina Leitzig: Kiper Manchester United yang Hobi Berkebun

Manchester United resmi mendatangkan kiper baru bernama Janina Leitzig pada musim panas ini, dan perempuan 27 tahun itu langsung mencuri perhatian dengan kepribadiannya yang unik. Sementara sebagian wilayah Inggris bersiap menghadapi gelombang panas kelima pada 2026, Leitzig mengaku prihatin dengan nasib tanaman tomat milik pewawancaranya yang kekurangan air. “Kalian tidak terbiasa dengan curah hujan yang sedikit, ya?” ujarnya kepada Guardian.

Leitzig, yang pernah memperkuat timnas muda Jerman, pindah ke Manchester United setelah tiga setengah tahun membela Leicester City. Meski belum memiliki kebun pribadi di rumah barunya, ia punya cerita menarik tentang bagaimana berkebun membantunya bertahan di negeri orang. Kini, ia bersiap menjalani babak baru kariernya di salah satu klub terbesar Inggris.

Janina Leitzig

Hobi Berkebun yang Menemaninya Selama di Inggris

Leitzig mengaku sangat menikmati aktivitas berkebun, terutama saat menanam sayuran. “Saya suka berkebun. Di rumah, setiap orang punya sayuran sendiri dan rasanya memang lebih enak,” katanya. Menurutnya, berkebun bukan sekadar hobi, tetapi juga cara untuk tetap terhubung dengan kebiasaan di kampung halamannya.

Selama tinggal di Leicester, kebun menjadi tempat pelarian yang membantu mengusir rasa sepi. “Jauh dari rumah dan jauh dari keluarga, tentu kamu punya teman-teman sepak bola, tetapi tetap saja kadang terasa cukup sepi ketika pulang dari latihan,” tuturnya. “Jadi sungguh menyenangkan punpa kebun dan menghabiskan waktu di luar ruangan. Ini tidak butuh banyak usaha, hanya hobi yang menyenangkan.”

Pada musim panas ini, Leitzig sempat mengisi waktu liburnya dengan berselancar di Cornwall. Namun kini ia sudah kembali menjalani pramusim yang serius bersama Manchester United. Tim barunya dijadwalkan menggelar kamp pelatihan di La Manga pada 14-19 Agustus dengan fokus utama pada latihan lari, bukan lagi berkebun.

Perjalanan Janina Leitzig di Manchester United

Wawancara ini sendiri dilakukan sebelum publik mengetahui bahwa pelatih asal Spanyol, Eva Olid, akan menjadi manajer baru Manchester United. Meski demikian, Leitzig sudah punya alasan kuat mengapa ia memilih pindah dari Leicester ke United. “Ini klub yang sangat besar dan merupakan suatu kehormatan besar bisa berada di sini,” ujarnya.

“Saya pikir, bagi setiap pemain, sangat menarik jika ada tawaran dari Manchester United. Yang pertama, timnya sangat menyenangkan. Karakter-karakter di dalamnya menunjukkan bahwa ini tim yang benar-benar bagus dan kuat,” lanjut Leitzig. “Kualitas latihannya sangat tinggi. Bangunan dan fasilitas di Carrington juga sangat bagus dan profesional.”

“Saat komunikasi dengan United berlangsung, mereka memberi saya perasaan yang sangat baik,” ungkapnya. Leitzig menandatangani kontrak dengan Manchester United hingga 2029. Kepindahan ini sekaligus menjadi lembaran baru setelah ia mengalami musim yang mengecewakan bersama Leicester.

Kenangan di Leicester dan Pahitnya Relegasi

Leitzig bukan nama asing di sepak bola Jerman karena ia pernah memperkuat Bayern Munich dan Hoffenheim sebelum merantau ke Inggris. Ia pertama kali bergabung dengan Leicester dengan status pinjaman pada Januari 2023, lalu dikontrak permanen pada musim panas tahun yang sama. Ia pun bertahan selama tiga setengah tahun di klub asal East Midlands tersebut. “Itu adalah waktu yang sangat spesial bagi saya. Awalnya hanya setengah tahun, tetapi akhirnya menjadi tiga setengah tahun,” kenangnya.

“Saya pikir itu menunjukkan betapa saya menyukai tempat itu. Orang-orangnya hebat dan klubnya juga hebat,” lanjut Leitzig. Meski begitu, ia tak menampik bahwa musim lalu menjadi masa yang sangat sulit bagi Leicester. “Kami mengalami masa-masa sulit dan sayangnya relegasi musim lalu benar-benar berat dan menyakitkan,” akunya.

Menurut Leitzig, Leicester sebenarnya pantas berada di posisi yang lebih baik. Ia pun berharap mantan rekan-rekannya segera kembali ke Women’s Super League (WSL). “Saya sangat berharap para pemain di sana bisa tampil baik dan segera bertemu lagi di WSL. Akan luar biasa jika mereka bisa segera naik lagi,” ucapnya.

Pandangan Janina Leitzig tentang Evolusi Kiper Modern

Selama berkarier di Inggris, Leitzig mengamati banyak perubahan dalam gaya bermain kiper. Ia mengaku tren kiper yang diminta berani memainkan bola dari belakang sempat berlebihan. “Sejujurnya, ada satu fase di mana semua orang ingin kiper bermain dengan kaki dan itu memang masih penting. Tetapi ada fase di mana hal itu terlalu berlebihan, agak dibesar-besarkan,” katanya.

Leitzig menilai tren tersebut kini mulai bergeser kembali ke hal-hal mendasar dalam menjadi penjaga gawang. “Kamu tetap harus bisa mengalihkan permainan dan harus cakap menggunakan kaki saat ditekan,” jelasnya. “Tetapi permainan akan lebih mengarah pada upaya mengirim bola secepat mungkin ke area lawan untuk menjaga tekanan, bukan mengambil risiko tinggi. Ini akan menjadi menarik untuk disimak.”

Sebagai kiper asal Jerman, Leitzig mengaku banyak belajar dari idolanya, Manuel Neuer. “Karena saya orang Jerman dan Manuel Neuer juga orang Jerman, saya belajar bermain dengan kedua kaki sejak dini,” tuturnya. Ia juga pernah berposisi sebagai pemain lapangan sebelum akhirnya menjadi kiper, sehingga merasa percaya diri saat menguasai bola. “Tetapi menahan tembakan adalah bagian terbaik dari menjadi kiper,” tegasnya.

Persaingan Sehat dan Target Musim Baru

Manchester United musim lalu diperkuat kiper asal Amerika Serikat, Phallon Tullis-Joyce, yang tampil dalam 21 dari 22 laga WSL. Leitzig menyambut baik persaingan sehat yang akan terjadi di posisi penjaga gawang. “Mereka (United) bilang ini adalah persaingan. Tentu sangat penting memiliki kiper yang kuat karena kita tidak pernah tahu apa yang terjadi selama musim berjalan,” ujarnya.

Leitzig bertekad memberikan yang terbaik dan berkualitas demi tim. Namun ia juga sadar bahwa keputusan akhir tetap berada di tangan manajer. “Saya akan berusaha maksimal dan mencoba memberikan kualitas. Yang terpenting, kami harus menjadi tim kiper yang solid, saling mendukung, dan saling mendorong supaya semua bisa berkembang,” kata Leitzig.

Manchester United finis di peringkat keempat musim lalu dan akan membuka musim baru WSL dengan laga tandang melawan London City Lionesses pada 4 September. Leitzig mengaku sudah tidak sabar menantikan laga pembuka tersebut. “Memainkan laga pertama musim ini pada Jumat malam, pukul 19.00, di bawah lampu sorot, itu sesuatu yang bikin kamu sangat bersemangat. Saat menjalani pramusim, kamu berpikir: kapan pertandingan segera dimulai. Jadi saya sangat antusias untuk laga itu,” pungkasnya dengan mata berbinar.

Dari hobi berkebun hingga persaingan memperebutkan posisi utama di bawah mistar, Leitzig menjalani babak baru kariernya dengan penuh semangat. Ia membawa pengalaman berharga dari Leicester, termasuk pelajaran dari musim yang penuh perjuangan melawan degradasi. Kini, semua fokusnya tertuju pada membantu Manchester United tampil lebih baik di WSL musim ini.

Dengan kontrak yang mengikatnya hingga 2029, Leitzig punya waktu panjang untuk membuktikan kualitasnya di Manchester. Pertanyaan besarnya kini adalah apakah ia mampu merebut tempat utama dari Phallon Tullis-Joyce di bawah asuhan Eva Olid. Yang jelas, perjalanan karier Leitzig bersama Manchester United akan menarik untuk diikuti.