Suasana di Meksiko sedang memanas. Setelah kemenangan dramatis atas Ekuador yang membawa mereka ke babak 16 besar Piala Dunia, seluruh negeri gempar. Jalanan di Mexico City dipenuhi jutaan suporter yang berpesta di sekitar El Ángel de la Independencia. Namun, di balik euforia itu, ada kekacauan lain — ancaman badai yang diperkirakan akan mengguyur kota dan memengaruhi pertandingan melawan Inggris. Bahkan jadwal kick-off sempat diperdebatkan, meski akhirnya tetap pukul 6 sore waktu setempat.
Kekacauan ini juga menjalar ke kubu Inggris. Manajer Thomas Tuchel harus menghadapi tekanan besar saat timnya bersiap menghadapi Meksiko dalam laga hidup-mati. Partai ini disebut-sebut sebagai salah satu laga terbesar dalam sejarah sepak bola Meksiko, dan Inggris pun tak boleh lengah.
Kekacauan di Laga Sebelumnya
Pada babak 32 besar melawan Republik Demokratik Kongo (DRC), Inggris nyaris terperosok. Mereka tertinggal 1-0 lebih dulu sebelum akhirnya menang 2-1 berkat dua gol telat Harry Kane. Yang mengkhawatirkan adalah bagaimana pasukan Tuchel tampil kacau di 25 menit pertama. Pemain bermain terlalu terburu-buru, emosional, dan tidak sabar. Bek sayap Reece James yang cedera bahkan harus turun tangan menenangkan Jude Bellingham saat jeda minum.
Tuchel sendiri sudah memperingatkan sebelumnya, “Ini bisa menjadi pertandingan yang membutuhkan kesabaran, dan kami tidak boleh panik.” Namun kenyataannya, Inggris justru panik. Pertahanan mereka tidak rapi, pressing terlalu dini, dan jarak antarlini terlalu lebar. “Kami tidak memilih momen dengan baik. Terlalu cepat, tidak kompak,” keluh Tuchel.
Masalah di Depan Gawang
Tak hanya di lini belakang, ketidaksabaran juga terlihat di depan gawang. Hingga babak 32 besar, Inggris menjadi tim yang paling banyak membuang peluang emas—total 15 kali, enam di antaranya saat melawan DRC. Angka itu tertinggi dibanding tim lain (Prancis di urutan kedua dengan 12). Tuchel mengakui serangan mereka terlalu cepat. “Kadang pintu tertutup, tidak membantu jika kita terus memaksakan diri. Cari pintu lain, cari cara lain, dan hargai penguasaan bola. Jika tidak, kita hanya akan kehabisan tenaga tanpa hasil maksimal.”
Badai Meksiko di 20 Menit Pertama
Tuchel sadar betul bahwa Meksiko akan tampil seperti angin topan di 20 menit awal. Inggris hadapi Meksiko di Stadion Azteca yang berada di ketinggian 2.240 meter di atas permukaan laut. Lawan akan memanfaatkan kondisi itu untuk membuat pemain Inggris kehabisan napas. Striker Meksiko Raúl Jiménez berkata, “20 menit pertama… pemain lawan akan kesulitan bernapas. Saat itulah kami bisa membuat perbedaan.”
Tuchel merespons dengan fokus pada ketenangan dan kekompakan. Ia menegaskan pentingnya memilih momen pressing yang tepat, sinkronisasi gerakan, dan menjaga jarak antarlini agar energi tidak terbuang percuma. “Kami berkomitmen penuh pada usaha, tapi harus lebih ekonomis,” ujarnya.
Identitas Permainan Inggris yang Masih Buram
Sejak ditunjuk sebagai manajer, Tuchel berjanji akan membawa gaya bermain ala Premier League: agresif, berani, dengan kombinasi tajam. Ia bahkan mengkritik era Gareth Southgate yang dianggap kurang memiliki identitas dan terlalu takut kalah. Namun, dalam beberapa laga Piala Dunia ini, identitas Tuchel belum terlihat jelas. Permainan Inggris terlihat bingung dan terlalu terburu-buru.
Tuchel membela diri, “Kami kehilangan sedikit keringanan dan ritme, mungkin karena ketegangan dan lawan. Tapi kami tidak meninggalkan visi kami. Fisikalitas adalah identitas Premier League, dan kami akan tetap berani, memainkan pemain di lini depan dan sayap.”
Ketergantungan pada Harry Kane?
Banyak yang menuding Inggris terlalu bergantung pada Kane. Tuchel menepis dengan perbandingan: “Argentina juga bergantung pada Messi, bukan? Semua orang melakukan tugasnya untuk mencari ruang bagi Harry, dan Harry melakukan sisanya. Ini bukan one-man show. Kami akan semakin baik ketika tekanan sebagai favorit besar mulai berkurang dan lawan justru menyerang kami.”
Kesimpulan: Tenang di Tengah Badai
Jadwal padat — tujuh penerbangan dalam 12 hari dan empat pertandingan dalam 13 hari — membuat perjalanan Inggris terasa seperti perjuangan berat. Namun Tuchel tetap optimistis. Kuncinya adalah ketenangan dan kohesi. Inggris hadapi Meksiko dengan tekad untuk tidak mengulangi kesalahan di laga sebelumnya. Jika mampu melewati 20 menit pertama yang mencekik, peluang untuk lolos ke perempat final terbuka lebar. Kini giliran Inggris yang harus membuktikan bahwa mereka bisa tenang di tengah kekacauan.
Pendahuluan: Tantangan Berat Inggris di Kandang Meksiko
Laga antara Inggris dan Meksiko di Piala Dunia kali ini bukan sekadar pertandingan biasa. Bermain di kandang lawan, tepatnya di Stadion Azteca yang legendaris, membuat Inggris harus menyiapkan strategi ekstra. Meksiko datang dengan performa impresif, diperkuat pemain muda berbakat seperti Gilberto Mora dan ujung tombak senior Raúl Jiménez. Untuk bisa mencuri poin, atau bahkan kemenangan, Inggris perlu menerapkan taktik yang tepat. Berikut lima strategi kunci yang bisa digunakan Thomas Tuchel dan anak asuhnya untuk meredam agresivitas Meksiko.
Screenshot
1. Kendalikan Pergerakan Gilberto Mora
Salah satu kejutan turnamen ini adalah munculnya gelandang muda Gilberto Mora. Meski usianya belum genap 18 tahun, ia sudah bermain dengan percaya diri layaknya pemain senior. Lawan Rep. Ceko dan Ekuador, Mora menjadi pembeda dengan kemampuannya mengatur tempo dan memberikan umpan-umpan berbahaya. Ia memiliki kaki cepat dan sentuhan bola halus yang mengingatkan pada Andrés Iniesta. Kombinasinya dengan bek kanan Jorge Sánchez dan winger Roberto Alvarado patut diwaspadai.
Declan Rice tampaknya menjadi pemain yang tepat untuk mematikan pergerakan Mora. Rice dikenal sebagai gelandang bertahan yang solid dan mampu menekan lawan. Tugas Rice adalah memotong jalur bola ke Mora, tidak memberinya ruang untuk mengatur serangan, dan tetap disiplin dalam membantu pertahanan. Jika Mora bisa diredam, maka kreativitas lini tengah Meksiko akan berkurang drastis.
Kenali Kelemahan Mora
Meski tampil gemilang, Mora belum pernah menghadapi tekanan setinggi yang bisa diberikan Inggris. Ia mungkin masih belum terbiasa dengan pressing ketat dari pemain sekelas Rice dan Jude Bellingham. Inggris harus memanfaatkan momen ini dengan melakukan penjagaan ketat sejak menit awal agar Mora frustrasi dan kehilangan ritme permainannya.
2. Matikan Pasokan Bola ke Raúl Jiménez
Di usianya yang ke-35, Raúl Jiménez masih menjadi momok bagi pertahanan lawan. Ia baru saja mencetak gol indah ke gawang Ekuador, menunjukkan bahwa naluri mencetak golnya belum pudar. Jiménez adalah target man yang cerdas, kuat dalam duel udara, dan pintar mencari celah di kotak penalti. Kunci untuk membungkamnya adalah memutus suplai bola dari sayap.
Meksiko sangat suka melebarkan permainan lalu mengirimkan umpan silang ke arah Jiménez. Oleh karena itu, bek sayap Inggris seperti Kyle Walker atau Ben Chilwell harus tampil disiplin dalam mencegah umpan-umpan tersebut. Selain itu, duet bek tengah Ezri Konsa dan Marc Guéhi harus bersiap untuk duel fisik yang berat. Mereka harus antisipatif terhadap pergerakan Jiménez dan tidak boleh lengah meski hanya sedetik.
3. Manfaatkan Keunggulan Fisik di Udara
Salah satu kelemahan tim Meksiko di turnamen ini adalah postur pemain yang cenderung pendek. Mereka termasuk skuad dengan tinggi rata-rata paling rendah. Ini menjadi peluang emas bagi Inggris untuk memanfaatkan bola-bola mati. Tendangan sudut atau free kick bisa menjadi senjata utama, terutama karena pertahanan Meksiko sejauh ini tampak solid dan belum kebobolan.
Pemain seperti Harry Kane, John Stones, atau Declan Rice memiliki keunggulan tinggi badan yang bisa diandalkan. Meski begitu, waspadai bek raksasa Meksiko, César Montes, yang juga berbahaya saat naik ke kotak penalti lawan. Ia nyaris mencetak gol lewat sundulan saat melawan Ekuador. Inggris harus memastikan tidak ada pemain Meksiko yang bebas di kotak penalti saat situasi bola mati.
4. Redam Euforia Pemain Kedua Belas Azteca
Stadion Azteca bukanlah tempat yang ramah bagi tim tamu. Atmosfernya begitu mencekam karena didukung hampir 80.000 suporter fanatik. Ini seperti melawan satu negara. Untuk mengatasi tekanan psikologis ini, Inggris tidak boleh terbawa permainan cepat ala Meksiko. Alih-alih bermain terbuka, Inggris disarankan memperlambat tempo dan menguasai penguasaan bola.
Strategi ini mungkin terkesan membosankan, namun efektif untuk mematikan momentum Meksiko. Jika Inggris bisa mencetak gol lebih dulu, maka suporter akan terdiam, dan Meksiko akan menghadapi situasi yang jarang mereka alami di kandang sendiri. Bermain dengan sabar, sering melakukan operan pendek, dan sesekali mengulur waktu adalah cara cerdas untuk mengganggu konsentrasi tuan rumah.
Faktor Ketinggian
Laga ini juga digelar di ketinggian Kota Meksiko yang bisa mempengaruhi stamina pemain. Inggris harus pintar mengatur energi dan tidak kehabisan napas di babak pertama. Oleh karena itu, memperlambat tempo permainan menjadi semakin penting agar pemain tidak terlalu cepat lelah.
5. Hentikan Serangan Balik Cepat Meksiko
Gol pembuka Meksiko ke gawang Ekuador menunjukkan betapa berbahayanya transisi cepat mereka. Dari serangan balik, bek kiri Jesús Gallardo melepas umpan terobosan yang membelah pertahanan, lalu Julián Quiñones berlari dari tengah lapangan dan mencetak gol. Quiñones dan Alvarado adalah pemain sayap yang lincah dan haus gol. Mereka tidak butuh undangan untuk mengeksploitasi ruang kosong.
Solusi terbaik bagi Inggris adalah tidak bermain terlalu terbuka. Jangan terlalu banyak pemain yang maju ke depan sehingga mudah terkena serangan balik. Sebaliknya, Inggris bisa bermain lebih dalam, memaksa Meksiko membangun serangan dari bawah, lalu memanfaatkan celah melalui serangan balik sendiri. Bersabar dan menunggu momen yang tepat akan membuat frustrasi pelatih Meksiko, Javier Aguirre, yang terkenal licik dalam meracik strategi.
Kesimpulan: Kunci Kemenangan Ada pada Disiplin dan Adaptasi
Menghadapi Meksiko di Azteca bukanlah tugas mudah, namun bukan tidak mungkin. Inggris memiliki kualitas individu yang lebih baik di beberapa lini, terutama jika mereka bisa mematikan motor serangan Meksiko di lini tengah dan memanfaatkan kelemahan fisik lawan. Disiplin taktik, kemampuan membaca permainan, dan adaptasi terhadap tekanan suporter akan menjadi faktor penentu. Jika kelima strategi di atas dijalankan dengan baik, Inggris punya peluang besar untuk membawa pulang hasil positif.
Timnas Australia (Socceroos) bersiap menghadapi laga hidup mati melawan Mesir di babak 32 besar Piala Dunia. Pertandingan yang akan digelar di Dallas, Texas, ini semakin menarik setelah dipastikan bintang Mesir, Mohamed Salah, dalam kondisi fit dan siap tampil. Meski demikian, masih ada tanda tanya apakah ia akan menjadi starter atau hanya duduk di bangku cadangan.
Pelatih Mesir, Hossam Hassan, mengonfirmasi bahwa pemain Liverpool tersebut sudah pulih dari cedera hamstring yang dialaminya saat melawan Iran. “Kami berharap dia bisa bermain besok, meskipun kami belum yakin apakah dia akan masuk dalam starting eleven,” ujar Hassan.
Ancaman Nyata dari Mo Salah
Salah sudah menunjukkan tajinya di fase grup dengan satu gol dan dua assist. Catatan itu membuatnya kini mengoleksi 68 gol internasional, hanya terpaut satu gol dari rekor pencetak gol terbanyak sepanjang masa Mesir yang dipegang oleh pelatihnya sendiri, Hossam Hassan.
Dalam sesi latihan terakhir, Salah terlihat bergerak bebas tanpa kendala. Cedera hamstring yang sempat membuatnya ditarik keluar saat melawan Iran tampaknya sudah pulih sepenuhnya. Hal ini tentu menjadi perhatian serius bagi lini belakang Australia yang akan dijaga ketat oleh kapten Harry Souttar (1,98 m).
Persiapan Australia: Dua Skenario Siap
Pelatih Australia, Tony Popovic, menegaskan timnya sudah mempersiapkan diri menghadapi dua kemungkinan: dengan atau tanpa Salah di lapangan. “Kami sudah menyiapkan taktik untuk menghadapi Salah jika ia bermain, dan kami juga sudah melihat bagaimana pemain pengganti di posisinya. Jadi kami siap,” kata Popovic dalam konferensi pers sebelum pertandingan.
Tanpa Salah pun, Mesir tetap berbahaya. Popovic menekankan bahwa timnya tidak boleh lengah. “Kami harus tetap fokus pada permainan kami sendiri dan menunjukkan kualitas sepak bola Australia di panggung dunia,” tambahnya.
Soal Perawakan: Bukan Soal Tinggi-Badan
Dalam sesi tanya jawab, Hassan mendapat pertanyaan tentang bagaimana Mesir akan menghadapi fisik pemain Australia yang cenderung tinggi besar. Dengan tenang ia menjawab, “Maradona tidak tinggi, Messi juga tidak. Ini bukan soal tinggi atau pendek. Kami punya pemain fisik, dan kami tidak bermain rugby di sini – ini sepak bola, bukan sepak bola Amerika – dan kami siap tempur.”
Pernyataan ini menegaskan bahwa Mesir tidak gentar dengan postur pemain lawan. Mereka mengandalkan kecepatan, teknik, dan strategi untuk mengimbangi keunggulan fisik Australia.
Kondisi Tim dan Dukungan Suporter
Australia harus tampil tanpa dua pemain sayap, Mat Leckie dan Jacob Italiano. Sementara itu, Popovic masih mempertimbangkan apakah akan memasang Jordy Bos di sisi kanan setelah penampilannya yang menjanjikan saat melawan Paraguay. “Kami merasa rileks, percaya diri, dan siap memberikan yang terbaik besok,” ujar Popovic.
Di sisi lain, kedatangan skuad Mesir di Texas disambut ribuan penggemar. Hassan mengaku sangat terharu. “Saya ingin memeluk semua orang, menggendong mereka di pundak saya. Ada orang dewasa, ada anak-anak – sungguh luar biasa,” katanya penuh semangat.
Jalannya Turnamen: Tantangan Berikutnya
Pemenang duel ini akan bertemu dengan pemenang laga Argentina vs Cape Verde yang berlangsung di Miami. Artinya, langkah selanjutnya akan semakin berat bagi siapa pun yang lolos. Bagi Socceroos, ini adalah kesempatan untuk menunjukkan sepak bola Australia di panggung dunia, sekaligus membuktikan bahwa mereka mampu bersaing dengan tim-tim elite.
Pertandingan antara Australia dan Mesir diprediksi akan berjalan sengit. Dengan Salah yang fit dan semangat tinggi, serta Australia yang sudah siap dengan berbagai skenario, laga ini layak dinantikan.
Thomas Tuchel, pelatih kepala timnas Inggris, memberikan izin kepada anak-anak di Inggris untuk begadang menonton pertandingan penting melawan Meksiko. Laga babak 16 besar Piala Dunia itu akan berlangsung di Stadion Azteca, Mexico City, dengan kick-off pukul 01.00 waktu setempat (Senin pagi di Inggris). Tuchel secara khusus meminta para orang tua menulis surat izin ke sekolah agar anak-anak mereka bisa menyaksikan pertandingan besar tersebut.
Harry Kane Selamatkan Inggris di Atlanta
Sebelumnya, Inggris nyaris tersingkir secara memalukan di babak 16 besar Piala Dunia saat melawan Republik Demokratik Kongo (DRC) di Atlanta. Harry Kane menjadi pahlawan dengan dua gol di 15 menit terakhir, membalikkan ketertinggalan usai Brian Cipenga membawa DRC unggul lebih dulu. Kemenangan ini menjadi pertama kalinya Inggris memenangi laga Piala Dunia setelah kebobolan lebih dulu sejak final 1966 melawan Jerman Barat.
Pertandingan yang disaksikan sekitar 10.000 suporter Inggris itu berlangsung sengit. Inggris tampil pincang di babak pertama, namun Kane berhasil menyamakan kedudukan di menit ke-75 sebelum mencetak gol kemenangan jelang waktu normal berakhir. Kiper DRC, Lionel Mpasi, sempat berkali-kali menggagalkan peluang Inggris.
Tuchel: Biarkan Anak-Anak Nonton Laga Inggris vs Meksiko
Usai laga, Tuchel menyampaikan pesan khusus kepada para orang tua di Inggris. “Tulislah surat izin untuk sekolah dan biarkan mereka menonton sepak bola,” ujar eks pelatih Bayern Munich itu. “Anak-anak punya banyak waktu untuk bersekolah, tapi Piala Dunia hanya datang setiap empat tahun. Biarkan mereka menonton. Akan ada pertandingan besar dalam empat hari dan kami butuh dukungan semua orang, terutama anak-anak.”
Pernyataan Tuchel menjadi sorotan karena pertandingan Inggris vs Meksiko dijadwalkan kick-off pada pukul 01.00 dini hari waktu Inggris (Senin). Ia berharap anak-anak bisa tetap terjaga dan mendukung tim nasional dari rumah, meski harus bersekolah keesokan harinya.
Inggris Hadapi Meksiko di Azteca: Tantangan Ketinggian
Setelah melewati babak 16 besar, Inggris harus bersiap menghadapi tuan rumah bersama Meksiko di Stadion Azteca. Stadion yang terletak di ketinggian lebih dari 2.000 meter di atas permukaan laut itu dikenal angker bagi tim tamu. Meksiko belum pernah kalah dalam laga Piala Dunia di Azteca, dan saat ini mereka masih dalam tren positif setelah empat kemenangan beruntun tanpa kebobolan.
Tuchel mengakui bahwa ketinggian menjadi keuntungan besar bagi Meksiko. “Mungkin ini salah satu pertandingan paling indah dan menegangkan yang bisa Anda dapatkan, melawan Meksiko di Azteca. Akan banyak hambatan menunggu kami. Belum lagi ketinggian akan menjadi kerugian besar karena secara fisik kami tidak bisa beradaptasi hanya dalam empat hari. Tapi kami siap. Mungkin ini platform ideal untuk benar-benar percaya bahwa kami siap,” tegasnya.
Inggris telah menjalani pemusatan latihan cuaca panas di Miami sebelum turnamen, yang diharapkan membantu mereka beradaptasi dengan kondisi ekstrem di Azteca.
Kane Sang Kapten: Catatan Gol dan Semangat Tim
Dua gol yang dicetak Harry Kane membuatnya kini mengoleksi 13 gol di putaran final Piala Dunia, memperpanjang rekor yang ia renggut dari Gary Lineker. Kane juga telah mencetak total 72 gol untuk klub dan timnas musim ini. Usai pertandingan, ia memimpin perayaan di lapangan bersama para pemain yang ikut bernyanyi “Wonderwall” bersama suporter.
“Kami bicara tentang momen-momen heroik. Bisa saja siapa pun di tim, entah itu saya, penyelamatan kiper, blok dari bek. Kami punya momen heroik dan hari ini giliran saya,” ujar Kane. “Anda harus sabar dalam pertandingan seperti ini. Beberapa laga terakhir serupa, dan saat sepak bola gugur tekanannya lebih tinggi, risikonya juga lebih besar.”
Kesimpulan
Permintaan Thomas Tuchel agar anak-anak diizinkan menonton pertandingan Inggris vs Meksiko menjadi perbincangan hangat. Di tengah tantangan ketinggian dan atmosfer Stadion Azteca yang legendaris, Inggris berharap dukungan penuh dari suporter di rumah—termasuk anak-anak—bisa menjadi energi tambahan. Dengan Harry Kane dalam performa terbaiknya, The Three Lions siap menghadapi salah satu ujian tersulit di Piala Dunia kali ini.
Laga DR Congo vs Inggris di babak 32 besar Piala Dunia menjadi salah satu pertandingan yang paling dinanti. Tim asuhan Sébastien Desabre berhasil melaju ke fase gugur setelah tampil solid di babak grup. Mantan kapten DR Congo, Gabriel Zakuani, percaya timnya punya peluang besar untuk mengejutkan dunia dan menyingkirkan Thomas Tuchel beserta anak asuhnya.
DR Congo dan Keyakinan Zakuani Hadapi Inggris
Gabriel Zakuani, yang pernah menjadi kapten tim nasional DR Congo, menolak tawaran menjadi komentator untuk pertandingan ini. Ia mengaku terlalu emosional jika harus bekerja saat timnya berlaga di laga terbesar dalam sejarah mereka. “Ada terlalu banyak emosi di dalamnya. Saya tidak akan sanggup melakukannya,” ujar Zakuani kepada media Inggris.
Mantan bek Peterborough United ini justru memilih menonton pertandingan bersama komunitas besar DR Congo di West Green Road, Tottenham. Ia merasa bangga bisa menyaksikan perjuangan tim yang turut ia bentuk dari diaspora Kongo di Eropa. Zakuani berperan besar dalam mengumpulkan pemain-pemain keturunan Kongo yang bermain di liga-liga Eropa untuk memperkuat DR Congo vs Inggris di panggung Piala Dunia.
Celah di Tim Inggris yang Bisa Dieksploitasi
Zakuani tidak ragu menyebut ada kelemahan yang terlihat jelas di skuad Inggris. Ia mengambil inspirasi dari performa Ghana saat melawan Inggris di babak grup. Menurutnya, jika tim lawan duduk bertahan, Inggris kesulitan membongkar pertahanan. “Ada celah di Inggris. Saya pikir itu sangat jelas,” kata Zakuani.
Ia menambahkan bahwa kunci mengalahkan Inggris adalah menghentikan Jude Bellingham. “Jika Anda menghentikan Bellingham, Anda menghentikan sebagian besar permainan Inggris. Tim kami sangat atletis dan bagus dalam bertahan. Saya pikir kami punya lebih banyak daya gedor dibanding Ghana,” jelasnya. Zakuani optimistis jika DR Congo bisa bertahan cukup lama, peluang mencetak gol akan datang dan harus dimanfaatkan dengan klinis.
Pemain Diaspora: Kekuatan Tersembunyi di Balik DR Congo vs Inggris
DR Congo diperkuat sejumlah pemain yang lahir atau besar di Eropa, termasuk beberapa yang pernah membela tim junior Inggris. Hanya enam pemain dalam skuad yang lahir di DR Congo. Berikut beberapa nama kunci yang diperkirakan akan tampil:
Yoane Wissa (Newcastle United) – penyerang cepat yang sudah malang melintang di Premier League.
Aaron Wan-Bissaka (bek kanan) – sempat bermain untuk Timnas U-21 Inggris sebelum akhirnya memilih DR Congo.
Noah Sadiki (gelandang Sunderland) – pemain muda Belgia yang lebih memilih DR Congo setelah merasa lebih terpanggil.
Axel Tuanzebe (Burnley) – satu sekolah dengan Marcus Rashford di Manchester, tampil mengesankan selama turnamen.
Zakuani bercerita bahwa ia harus meyakinkan Wan-Bissaka dengan mendatangi rumah orang tuanya di Purley bersama pelatih Desabre. “Aaron tampil fantastis di turnamen ini. Saya pikir dia kurang beruntung tidak dipanggil Inggris, terutama setelah menjadi pemain terbaik West Ham. Saat panggilan itu tidak datang, dia memutuskan sudah cukup,” ungkap Zakuani.
Perjalanan Berat DR Congo Menuju Piala Dunia
Lolos ke Piala Dunia bukanlah perkara mudah bagi DR Congo. Mereka finis satu poin di belakang Senegal di grup kualifikasi, lalu menyingkirkan raksasa Afrika seperti Kamerun dan Nigeria di babak playoff, sebelum mengalahkan Jamaika di final antar-konfederasi. Perjalanan keras itu justru membuat tim semakin tangguh.
“Perjalanan itu mungkin membuat kami terbiasa bermain di bawah tekanan. Persatuan di ruang ganti terlihat oleh semua orang,” kata Zakuani. Ia yakin timnya mampu memberikan kejutan besar di laga DR Congo vs Inggris nanti. “Di dalam ruang ganti, mereka percaya bisa meraih hasil positif. Saya pikir akan ada skandal besar di sini. Saya tidak hanya bicara karena saya di pihak Kongo, tetapi saya yakin pertandingan akan lebih ketat dari perkiraan banyak orang.”
Kesimpulan: Peluang Kejutan Masih Terbuka
Pertemuan DR Congo vs Inggris di babak 32 besar Piala Dunia bukanlah laga yang bisa dianggap remeh. Dengan semangat juang tinggi, pemain diaspora berbakat, dan keyakinan penuh dari mantan kaptennya, DR Congo siap memberikan perlawanan sengit. Inggris mungkin diunggulkan, tetapi sepak bola selalu menyisakan ruang untuk kejutan.
Lucas Herrington, bek muda Australia berusia 18 tahun, menjadi sorotan setelah tampil gemilang di Piala Dunia. Ia adalah pemain termuda Australia yang menjadi starter di laga Piala Dunia saat menghadapi Paraguay. Ketenangannya di lapangan bahkan dibandingkan dengan mobil mewah Rolls-Royce oleh rekan setimnya, Harry Souttar.
Herrington sebelumnya bermain di A-League bersama Brisbane Roar sebelum pindah ke Colorado. Kini, namanya dikaitkan dengan raksasa Eropa seperti Barcelona. Nilai transfernya diprediksi bisa menyamai atau melampaui rekor Australia yang dipegang Harry Souttar (£15 juta).
Pujian Setinggi Langit dari Rekan Setim
Setelah laga melawan Paraguay, Souttar memuji penampilan Herrington. “Kau tak akan percaya ini adalah laga Piala Dunia pertamanya. Dia benar-benar tenang, seperti Rolls-Royce,” ujar Souttar. Pujian ini bukan tanpa alasan. Herrington sukses meredam serangan Paraguay, baik di udara maupun di tanah, meski kerap menjadi target empuk lawan.
Connor Metcalfe, gelandang Australia, juga kagum. “Tidak ada yang membuatnya goyah. Dia tidak pernah terlihat gugup. Saat dia menggiring bola, kami pun tidak panik. Biasanya jika pemain muda tampil, rekan lain khawatir akan keputusan ceroboh. Tapi dia selalu tenang,” kata Metcalfe.
Dampak Finansial bagi Brisbane Roar
Keputusan Brisbane Roar menjual klausul penjualan 20% untuk Colorado seharga sekitar A$500.000 kini dianggap merugikan. Jika Herrington dijual dengan harga tinggi, klub akan kehilangan potensi pendapatan miliaran dolar. Metcalfe berkomentar, “Mereka pasti akan menyesal.”
Ketenangan Bawaan Lahir
Herrington sendiri mengaku tidak melatih ketenangannya. “Itu mungkin bawaan. Saya hanya percaya pada kemampuan diri dan tim, lalu bermain apa yang ada di depan,” ujarnya. Ia juga sadar dengan rumor transfer ke Barcelona, tapi berusaha fokus pada turnamen. “Saya hanya ingin menikmati momen ini. Ini pertama kalinya, semoga banyak kesempatan lain. Saya akan bekerja keras dan lihat hasilnya nanti,” tambahnya.
Perjalanan Herrington ke Piala Dunia
Herrington baru masuk starting XI saat melawan Paraguay setelah sebelumnya menjadi cadangan di laga melawan Turki dan Amerika Serikat. Pelatih Tony Popovic memberinya kesempatan dan Herrington pun “over the moon”. Ia segera memberi kabar kepada ibunya yang awalnya gugup, tapi lebih excited.
Video saat Herrington berusia 14 tahun menonton Piala Dunia 2022 di fan zone Brisbane viral beberapa waktu lalu. Dalam video itu, ia terlihat dengan tubuh jangkung dan rambut keriting. “Saya sudah mendukung Socceroos sejak kecil. Sekarang berada di sini sangat spesial. Saya ingin membuat semua orang di kampung halaman bangga,” ujarnya.
Masa Depan Cerah
Herrington menerima pujian Souttar dengan rendah hati. Ketika ditanya apakah ia lebih suka dibandingkan dengan mobil lain selain Rolls-Royce, ia menjawab, “Tidak, saya senang dengan Rolls-Royce. Saya terima.”
Penampilannya di Piala Dunia tidak hanya membantu Australia lolos ke babak 32 besar, tapi juga mengukuhkan namanya sebagai salah satu talenta muda paling bersinar. Dengan ketenangan di atas rata-rata, Lucas Herrington siap menjadi pilar pertahanan Australia untuk tahun-tahun mendatang.
Kesimpulan
Lucas Herrington membuktikan bahwa usia bukanlah penghalang untuk tampil di panggung besar. Ketenangan dan kemampuannya membaca permainan membuatnya dijuluki “Rolls-Royce” oleh rekan setim. Meski rumor transfer terus berhembus, ia tetap fokus pada apa yang bisa ia kendalikan: permainannya sendiri. Jika ia terus berkembang, bukan tidak mungkin Herrington akan menjadi bek termahal Australia berikutnya.
Babak Pertama yang Mencekik: Inggris Terjebak dalam Kebuntuan
Di sela-sela turun minum di stadion New York New Jersey yang diguyur hujan, terdengar suara saxophone sendirian memainkan riff melankolis di luar tribun. Suasana itu seolah menjadi simbol betapa frustrasinya permainan Inggris pada babak pertama. Tim asuhan Thomas Tuchel tampil kaku, tanpa kreativitas, dan tidak mampu menemukan celah di pertahanan Panama yang disiplin.
Panama memang tampil apik, bukan soal skor. Masalahnya adalah cara Inggris bermain: tanpa kegembiraan, tanpa kebebasan, seperti sedang merakit lemari dengan sangat lambat. Para penggemar yang basah kuyup pun mendambakan seorang solois yang mampu memecah kebuntuan. Di sinilah Jude Bellingham akhirnya muncul sebagai jawaban.
Bellingham Mengubah Permainan dalam Lima Menit
Setelah babak kedua berjalan, tepatnya sekitar menit ke-62, Inggris masih kesulitan. Namun, dalam rentang lima menit, Jude Bellingham memberikan dua momen penentu. Gol pertama lahir dari sepak pojok Bukayo Saka, di mana Bellingham dengan cerdik meregangkan tubuhnya untuk membelokkan bola ke gawang.
Gol kedua menjadi lebih istimewa. Bellingham berlari menusuk pertahanan Panama, menggiring bola melewati lawan, lalu melepaskan umpan silang mendatar dengan kaki kiri yang sempurna untuk diselesaikan Harry Kane. Tiga aksi berkualitas tinggi dalam waktu singkat – lari, dribel, dan umpan – menunjukkan mengapa ia layak disebut sebagai pemain momen.
Peran Kunci Bellingham: Solois yang Membengkokkan Hari
Bellingham kerap dianggap hanya pemain momen, bukankah momen itulah yang memenangkan pertandingan? Di usia 22 tahun, ia masih mencari bentuk finalnya. Namun, yang membedakan adalah kemampuannya untuk benar-benar mewujudkan apa yang dijanjikan. Ketika Inggris tenggelam, ia memiliki kemauan dan teknik untuk mengubah jalannya laga.
Statistiknya sebelum ditarik keluar pada menit ke-71 cukup mengesankan: 68 sentuhan, satu gol, satu assist, dribel terbanyak, dan paling sering dilanggar. Ia bermain dengan intensitas tinggi, menunjukkan bahwa ia benar-benar ingin berada di sana. Bagi banyak pengamat, inilah Jude Bellingham yang sesungguhnya – seorang petarung yang tidak hanya ingin disukai, tetapi juga diidolakan.
Analisis Taktik: Mengapa Inggris Kesulitan di Babak Pertama?
Thomas Tuchel sudah menyiapkan tim untuk menghadapi blok rendah Panama, dengan menurunkan tujuh pemain bertipe menyerang. Tapi kenyataannya, Panama justru bermain dengan garis tinggi dan pressing agresif. Sayangnya, pemain sayap Inggris terlalu kaku mengikuti instruksi, tetap melebar sementara ruang kosong justru ada di belakang pertahanan.
Kejadian ini mengingatkan pada masalah klasik Inggris di Euro 2024: “constipation-ball” atau permainan macet. Meski pelatih dan pemain berbeda, pola yang sama masih terlihat. Asisten pelatih Anthony Barry berdalih bahwa energi stadion memengaruhi manajemen risiko. Namun, anggapan semacam itu justru bisa menjadi bagian dari masalah.
Perubahan di Babak Kedua: Adaptasi yang Terlambat
Untungnya, Jude Bellingham memutuskan untuk melakukan sesuatu yang berbeda. Ia tidak sekadar mengikuti instruksi kaku, tetapi membaca situasi dan mengambil inisiatif. Lari ke belakang pertahanan Panama menjadi kunci, sesuatu yang tidak dilakukan pemain sayap Inggris sebelumnya. Inilah yang membuat perbedaan antara kebuntuan dan kemenangan.
Kesimpulan: Modal Positif di Tengah Kekhawatiran
Kemenangan 2-0 atas Panama membawa Inggris memuncaki grup dan akan menghadapi Republik Demokratik Kongo di babak 32 besar di Atlanta. Catatan tidak kebobolan dalam lima babak pertandingan tentu positif. Namun, jika pertahanan tampil lagi seperti babak pertama, tim kuat lain bisa memanfaatkannya.
Untungnya, Inggris memiliki talenta berlimpah, dan di tengah semua kebingungan itu, mereka memiliki Jude Bellingham – sang solois yang sedikit kumal namun mampu membengkokkan setiap hari sesuai kehendaknya. Ia adalah pemain yang tahu kapan harus tampil, dan pada malam di New York itu, ia kembali melakukannya.
Persaingan Sengit Perburuan Sepatu Emas Piala Dunia 2026
Sepuluh dari dua belas edisi terakhir Piala Dunia menunjukkan bahwa enam gol sudah cukup untuk mengamankan Sepatu Emas. Bahkan, pada 2006 dan 2010, lima gol pun sudah menjadi yang terbaik. Namun, perburuan Sepatu Emas Piala Dunia 2026 kali ini benar-benar berbeda. Setelah dua pertandingan babak grup, Lionel Messi sudah mengoleksi lima gol—mendekati rekor turnamen sepanjang masa milik Miroslav Klose yang telah ia lewati. Dalam kemenangan 2-0 Argentina atas Austria, Messi mencetak dua gol, meskipun ia kembali gagal mengeksekusi penalti di awal laga. Jika ia mampu mengonversi tendangan 12 pas, total gol Messi di Piala Dunia bisa mencapai 21, tiga lebih banyak dari saat ini.
Messi Memimpin, Tapi Dua Bintang Muda Mengintai
Di belakang Messi, Erling Haaland dan Kylian Mbappé membayangi dengan masing-masing empat gol. Keduanya tampil tajam di Grup I, meskipun mendapat “hadiah” dari kesalahan bek Irak dan Senegal. Pertandingan penentu grup antara Norwegia dan Prancis akan menjadi ajang pembuktian siapa yang layak menantang Messi. Mbappé sendiri sudah menyamai catatan Klose, hanya terpaut dua gol dari pemain Argentina. Sementara Haaland, yang baru debut di Piala Dunia, sudah menyamai pencapaian legenda seperti Raul, Romario, dan Roger Milla yang hanya mampu mencetak lima gol sepanjang karier mereka.
Rekor Just Fontaine Bisa Terancam?
FIFA tentu senang melihat nama-nama besar bersinar di panggung global. Selain trio di atas, Harry Kane mencetak dua gol dalam satu pertandingan, Vinícius Júnior sudah mengoleksi dua gol, dan dua tuan rumah (AS dan Kanada) juga punya striker andalan: Folarin Balogun serta Jonathan David. Yang menarik, edisi Piala Dunia 2026 memberikan satu pertandingan ekstra bagi para striker. Hal ini membuka peluang rekor 13 gol Just Fontaine (1958) terpecahkan. Terakhir kali ada pemain yang mencapai angka dua digit adalah Gerd Müller dengan 10 gol di Meksiko 1970.
Lebih dari Sekadar Trofi: Spektakel Gol dari Para Bintang
Yang pasti, perburuan Sepatu Emas Piala Dunia 2026 menjadi salah satu yang terbaik sepanjang masa. Persaingan melibatkan pemain-pemain terbaik planet ini. Di tengah sinisme dan kelelahan moral akibat kontroversi turnamen ini, suguhan gol dari para bintang adalah hal yang bisa dinikmati semua pecinta sepak bola. Semoga semakin banyak gol tercipta di laga-laga selanjutnya.
Tak hanya Messi, Haaland, dan Mbappé, nama-nama seperti Harry Kane, Vinícius Jr., dan striker tuan rumah juga turut meramaikan papan skor. Dengan format turnamen yang memberi kesempatan lebih banyak, bukan tidak mungkin kita akan melihat pemain pertama dalam 56 tahun yang mencapai dua digit gol dalam satu Piala Dunia.
Kesimpulan: Perburuan Sepatu Emas yang Tak Terlupakan
Perjalanan Piala Dunia 2026 masih panjang, tetapi persaingan Sepatu Emas sudah memanas. Messi memimpin, namun Haaland dan Mbappé siap merebut takhta. Ditambah potensi pecahnya rekor legendaris, turnamen ini menyajikan tontonan ofensif yang memanjakan mata. Bagi para pencinta sepak bola, tidak ada yang lebih seru daripada menyaksikan para predator gol terbaik dunia saling beradu ketajaman di panggung terbesar.
Premier League 2025-26 menyajikan salah satu musim paling dramatis dalam sejarah. Dari kejutan awal hingga perebutan gelar yang mendebarkan, setiap bulan menyimpan momen tak terlupakan. Artikel ini merangkum perjalanan musim Premier League 2025-26 dalam kilas balik 100 foto—mulai dari kemenangan dramatis Liverpool hingga perpisahan Pep Guardiola. Simak cerita lengkapnya di bawah.
Agustus: Awal Musim yang Dramatis
Juara bertahan Liverpool harus bersusah payah mengalahkan Bournemouth 4-2 di laga pembuka, setelah kehilangan Diogo Jota. The Reds juga menang tipis atas Newcastle berkat aksi Rio Ngumoha, lalu mengalahkan Arsenal melalui tendangan bebas indah Dominik Szoboszlai yang menjadi gol terbaik bulan itu.
Sementara itu, Manchester City tumbang 0-2 di kandang dari Tottenham dan kalah 1-2 dari Brighton. Everton meresmikan stadion baru mereka, Hill Dickinson Stadium, dengan kemenangan. Sunderland, yang kembali ke papan atas, memulai dengan dua kemenangan dari tiga pertandingan.
September: Gol Akhir yang Berlimpah
Bulan ini dipenuhi gol penentu di masa injury time. Gabriel Martinelli mencetak gol penyeimbang bagi Arsenal saat melawan Man City, lalu Gabriel Magalhães memastikan kemenangan 2-1 atas Newcastle dengan sundulan di menit ke-96. Liverpool menang dramatis atas Burnley berkat penalti Mo Salah di menit ke-95, sementara Eddie Nketiah memberi kemenangan telat bagi Crystal Palace atas tim asuhan Arne Slot—kekalahan pertama Liverpool musim ini.
Aston Villa akhirnya meraih kemenangan setelah lima laga tanpa menang dengan membalikkan keadaan melawan Fulham. Di dasar klasemen, Graham Potter dipecat West Ham, digantikan Nuno Espírito Santo yang baru saja meninggalkan Nottingham Forest. Man City dengan nyaman memenangi derby Manchester 3-0.
Oktober: Pemberhentian Kontroversial
Ange Postecoglou dipecat Nottingham Forest hanya 19 menit setelah kalah 3-0 dari Chelsea—40 hari setelah menggantikan Nuno. Liverpool menjalani bulan buruk dengan kekalahan dari Chelsea, Manchester United, dan Brentford.
Kemenangan Bournemouth 2-0 atas Forest membawa mereka ke posisi kedua, sementara Sunderland masuk empat besar setelah menang 2-1 di kandang Chelsea. Di dasar, Burnley menang dramatis atas Wolves berkat gol Lyle Foster di menit ke-95. Pelatih Wolves, Vítor Pereira, bereaksi marah terhadap pelecehan suporter.
November: Emosi Memuncak
Insiden aneh terjadi saat Idrissa Gueye (Everton) menampar rekannya sendiri, Michael Keane, dalam kemenangan 1-0 atas Manchester United—akibat kartu merah. Eberechi Eze mencetak hat-trick saat Arsenal menghancurkan Tottenham 4-1 untuk unggul enam poin di puncak.
Manchester City menang 3-0 atas Liverpool, lalu Harvey Barnes memberi Newcastle kemenangan atas City. Tyler Adams mencetak gol dari lingkaran tengah, namun Bournemouth tetap kalah 3-2 dari Sunderland yang sedang terbang tinggi. Fans West Ham memprotes pemilik klub dengan peti mati dan mobil jenazah sebelum melihat timnya mengalahkan Burnley 3-2.
Desember: Rekor dan Kontroversi
Mohamed Salah menuduh Liverpool membuangnya setelah tiga laga tidak menjadi starter—imbang 3-3 di Elland Road. Emi Buendía mencetak gol dengan tendangan terakhir saat Aston Villa mengalahkan Arsenal. Namun saat kedua tim bertemu lagi, Villa yang sedang dalam 11 kemenangan beruntun dikalahkan Arsenal 4-1.
Erling Haaland menjadi pemain tercepat mencapai 100 gol Premier League saat Man City memenangi laga sembilan gol melawan Fulham.
Januari: Perubahan Manajer Besar-besaran
Chelsea berpisah dengan Enzo Maresca pada Tahun Baru, digantikan sementara oleh Liam Rosenior. Masa buruk Ruben Amorim di Manchester United berakhir setelah imbang 1-1 dengan Leeds. Michael Carrick, yang menjadi pelatih interim United, langsung mengalahkan rival sekota Man City pada laga pertamanya, lalu menang 3-2 di Arsenal.
Igor Thiago mencetak hat-trick melawan Everton dan dua gol melawan Sunderland, menekan Haaland dalam perebutan sepatu emas.
Februari: Comeback dan Kejutan
Erling Haaland mencetak penalti menit ke-93 untuk membawa Man City bangkit mengalahkan Liverpool. Arsenal kehilangan keunggulan dua gol melawan Wolves yang berada di dasar klasemen setelah kesalahan komunikasi kiper David Raya dan Gabriel Magalhães.
Tottenham memecat Thomas Frank dan menunjuk Igor Tudor, tetapi ia menyaksikan timnya dihancurkan Arsenal 4-1. Burnley sempat menyamakan kedudukan 3-3 dari ketinggalan 0-3 melawan Brentford, namun gol telat Mikkel Damsgaard membuat usaha mereka sia-sia.
Maret: Kutipan Aneh dan Rekor Baru
Liam Rosenior mengeluarkan pernyataan paling aneh musim ini dengan mengatakan pemainnya mencoba “menghormati bola” saat mereka mengelilingi bola dan wasit Paul Tierney dalam formasi aneh sebelum laga melawan Newcastle—yang berakhir 0-1 di kandang.
Kepemimpinan Tudor yang buruk berlanjut dengan kekalahan dari Fulham, Crystal Palace, dan Nottingham Forest. Arsenal membuka keunggulan sembilan poin di papan atas setelah Max Dowman menjadi pencetak gol termuda Premier League (16 tahun 73 hari) saat mengalahkan Everton 2-0. Danny Welbeck mencetak dua gol untuk Brighton saat mengalahkan Liverpool 2-1.
April: Perebutan Gelar Membara
Dalam laga krusial, Man City mengalahkan Arsenal 2-1 di Etihad berkat penampilan gemilang Rayan Cherki. Kedua tim masih memiliki peluang juara di akhir musim. Fans City mengejek rivalnya dengan klaim hasil itu memicu “kepanikan di jalanan London”.
West Ham menghancurkan Wolves 4-0, Forest menang 4-1 atas Burnley dan 5-0 atas Sunderland, meninggalkan Tottenham—kini dengan manajer baru Roberto De Zerbi—terperosok di zona degradasi bersama Burnley dan Wolves.
Mei: Arsenal Akhirnya Juara
Alih-alih panik, fans Arsenal justru berpesta di jalanan London saat tim mereka meraih gelar pertama sejak 2004 melalui serangkaian kemenangan tipis. The Gunners finis tujuh poin di atas Man City, yang harus melepas Pep Guardiola setelah 10 tahun gemilang.
Di dasar klasemen, Tottenham selamat dari degradasi, sementara West Ham—yang ditolak satu poin oleh VAR saat melawan Arsenal dalam momen penentu musim—turun kasta bersama Wolves dan Burnley.
Kesimpulan: Musim Premier League 2025-26 benar-benar tak terlupakan. Dengan drama, kontroversi, dan rekor baru, kisah ini akan terus diingat oleh para pecinta sepak bola. Pantau terus galeri 100 foto untuk melihat setiap momen emosional sepanjang musim.
Menjelang musim baru, setiap klub Premier League memiliki titik lemah yang perlu segera dibenahi. Berikut rekomendasi posisi yang harus diperkuat oleh 20 tim papan atas Inggris agar kompetitif sepanjang musim.
Arsenal: Gelandang Tengah
Declan Rice bermain sangat padat musim lalu dengan total 4.456 menit di semua ajang. Kelelahan mulai terlihat saat Piala Dunia, kala fisiknya hampir ambruk. Arsenal membutuhkan tambahan pemain berkualitas di lini tengah agar Rice bisa sesekali beristirahat. Christian Nørgaard kesulitan mendapat kepercayaan Mikel Arteta, sehingga opsi gelandang baru sangat krusial untuk mempertahankan gelar juara.
Aston Villa: Bek Kiri
Aston Villa finis di tujuh besar empat musim beruntun dan musim lalu meraih trofi Liga Europa. Mereka perlu memperdalam skuad untuk bersaing di level elit, namun Lucas Digne mungkin hengkang ke PSG. Ian Maatsen pemain bagus, tapi ia tak bisa bermain setiap pekan jika Villa juga tampil di Liga Champions. Itu sebabnya Villa tertarik merekrut Pervis Estupiñán dari Milan.
Bournemouth: Bek Kanan
Adam Smith, legenda Bournemouth dengan lebih dari 400 penampilan, kini berusia 35 tahun. Max Aarons dan Julián Araujo didatangkan sebagai suksesor, namun gagal bersinar. Álex Jiménez dipinjamkan ke Fiorentina. Marco Rose perlu mendatangkan bek kanan bintang agar Smith bisa beristirahat.
Brentford: Bek Kiri
Brentford sudah membenahi kelemahan terbesar, tapi posisi bek kiri masih perlu peningkatan. Rico Henry kesulitan fit dan performa sejak cedera parah tiga tahun lalu. Musim lalu ia tampil 30 pertandingan namun membuat empat kesalahan yang berujung tembakan lawan—terbanyak bersama pemain Brentford lain. Tambahan pemain di sisi kiri juga membebaskan Keane Lewis-Potter bermain lebih ke depan.
Brighton: Gelandang Tengah
Brighton pasti sudah lama merencanakan masa pensiun James Milner dan usia Pascal Gross yang menua. Hanya enam gelandang di atas 34 tahun bermain di Premier League musim lalu, dan dua di antaranya adalah pemain Brighton. Lini tengah mereka tipis, apalagi ada potensi kepergian. Carlos Baleba dikaitkan dengan hengkang, dan Yasin Ayari tampil mengesankan di Piala Dunia. Tak ada pemain yang mencetak gol lebih banyak dari luar kotak penalti di turnamen itu selain Ayari. Brighton tetap butuh satu gelandang lagi meski Baleba dan Ayari bertahan.
Chelsea: Penjaga Gawang
Chelsea telah menghabiskan lebih dari £200 juta musim panas ini—£117 juta di antaranya untuk Morgan Rogers—namun masih banyak posisi bermasalah. Mereka tampak ingin merekrut bek tengah dan perlu tambahan di gelandang tengah serta sayap kiri, tapi prioritas utama adalah kiper. Robert Sánchez tak pernah benar-benar meyakinkan. Sejak bergabung Agustus 2023, ia menempati peringkat kedua Premier League untuk kesalahan menyebabkan tembakan (17) dan gol (7). Dari sepuluh pelaku terburuk di kedua metrik itu, Sánchez memiliki jumlah penampilan dan menit bermain paling sedikit. Mike Penders baru datang dari Strasbourg, tapi usianya baru 20 tahun, masih untuk masa depan. Xabi Alonso tak ingin memulai masa jabatannya dengan khawatir soal keandalan kiper utama.
Coventry: Penjaga Gawang
Coventry kembali ke Premier League setelah 25 tahun. Banyak hal yang belum pasti, termasuk kemampuan Haji Wright dan Ellis Simms sebagai ujung tombak menghadapi pertahanan terbaik Inggris. Namun yang paling besar tanda tanya adalah kiper utama karena mereka belum punya penggawa tetap. Coventry ingin mempermanenkan pinjaman Carl Rushworth dari Brighton, tapi belum bisa sepakat biaya. Hanya kiper Bristol City, Radek Vitek (+8,5), yang mencegah lebih banyak gol berkat penyelamatannya di Championship musim lalu dibanding Rushworth (+8,2). Tanpa dia, ada lubang besar yang harus diisi.
Crystal Palace: Bek Tengah
Pierre Sage menggunakan tiga bek di semua pertandingan Ligue 1 musim lalu, jadi kemungkinan Crystal Palace tetap memakai formasi 3-4-2-1 yang sukses di era Oliver Glasner. Mereka butuh lebih banyak kedalaman di bek tengah. Setelah kehilangan Marc Guéhi ke Manchester City pada Januari, tingkat kemenangan Premier League mereka turun dari 35% saat ia starter menjadi 22,2% tanpa dia. Jaydee Canvot adalah pengganti yang memadai, tapi Palace masih kekurangan jumlah pemain di lini belakang. Jika Maxence Lacroix juga hengkang, kebutuhan bek tengah semakin mendesak.
Everton: Bek Kanan
Masa 17 tahun Séamus Coleman di Everton telah berakhir, dan Nathan Patterson juga diperkirakan pergi. Akibatnya, Jake O’Brien kemungkinan menjadi satu-satunya bek kanan yang diakui. Namun, konsensus fans Everton mengatakan bahwa pemain republik Irlandia yang berpostur kekar itu tidak cukup dinamis atau teknis untuk menjadi full-back. James Garner kadang mengisi posisi itu. Posisi ini sudah lama menjadi masalah.
Fulham: Penyerang Tengah
Fulham butuh lebih banyak pemain yang bisa mencetak gol. Raúl Jiménez (9 gol) dan Harry Wilson (10 gol) menyumbang 19 dari 43 gol Premier League mereka musim lalu (tidak termasuk gol bunuh diri), dan keduanya hengkang gratis. Tak ada pemain lain yang mencetak lebih dari 4 gol liga musim lalu. Rodrigo Muniz (1 gol), Samuel Chukwueze (3 gol), dan Kevin (1 gol) diharapkan bisa lebih produktif, tetapi Fulham jelas butuh kedalaman di lini depan. Pelatih baru Álvaro Arbeloa ingin merekrut Gonzalo García dari Real Madrid, namun Fulham setidaknya butuh dua wajah baru.
Hull: Penyerang Sayap
Hull City sangat perlu menambah kualitas di lini serang. Oli McBurnie memiliki fisik untuk memimpin lini depan, namun pemain 30 tahun itu butuh rekan yang lari darinya agar efektif. Hull sudah menjual Kyle Joseph ke Middlesbrough dan tidak mencoba merekrut kembali Joe Gelhardt setelah masa pinjamannya. Akibatnya, mereka kekurangan pemain di lini depan.
Ipswich: Striker
Mayoritas tim promosi kesulitan karena kurangnya ketajaman di kedua kotak penalti. Dengan mendatangkan Issa Diop, Ipswich telah mengamankan bek andal untuk bermain bersama Dara O’Shea. Namun mereka butuh lebih banyak daya gedor di lini depan. George Hirst hanya dua kali mencapai dua digit gol dalam satu musim, dan Emersonn yang dibeli £24 juta belum pernah mencetak lebih dari 6 gol liga dalam semusim (meski baru 22 tahun). Daizen Maeda adalah tambahan yang sangat diperlukan dari Celtic.
Leeds: Penjaga Gawang
Leeds mendatangkan Lucas Perri dari Lyon musim panas lalu seharga £15,6 juta dengan harapan ia menyelesaikan masalah kiper. Ternyata tidak. Karl Darlow, awalnya pelapis Illan Meslier pada 2023, malah bermain lebih banyak di liga musim lalu. Namun Darlow kemudian hengkang gratis ke Manchester United. Leeds juga membiarkan kontrak Meslier habis. Opsi kiper yang tersisa hanyalah Perri yang tampil mengecewakan di musim pertamanya, dan Alex Cairns (33) yang pertandingan kompetitif terakhirnya bersama Salford pada 2023-24. Mereka butuh kiper lain.
Liverpool: Sayap Kanan
Musim terakhir Mohamed Salah di Liverpool adalah yang paling mengecewakan, namun ia tetap terlibat dalam 22 gol di semua ajang. Dalam sembilan tahun di Anfield, Salah adalah salah satu pemain terhebat dalam sejarah Liverpool dan hampir tidak bisa digantikan. Namun kontribusi golnya musim lalu masih bisa digantikan. Seorang penyerang sayap dinamis yang mencetak gol dan kreatif—seperti Bradley Barcola—sedang dalam agenda, dan Andoni Iraola punya rekam jejak bagus mengembangkan pemain seperti itu.
Manchester City: Sayap
Enzo Maresca telah mengisi satu lubang di skuad Manchester City dengan mendatangkan Elliot Anderson, tapi ia butuh opsi lain di sisi sayap untuk memberi variasi serangan. Akhir musim lalu, City kekurangan kedalaman di sayap. Antoine Semenyo kesulitan pada akhir musim dan City tak punya pengganti berkualitas di bangku cadangan. Savinho mengalami kemunduran di musim keduanya di Inggris, hanya menjadi starter 7 laga liga dan mencetak 1 gol. Phil Foden dan Rayan Cherki lebih baik di posisi tengah.
Manchester United: Gelandang Tengah
Opsi lini tengah Michael Carrick telah diperkuat dengan Andrey Santos dan Youri Tielemans. Ini awal yang cukup baik, tapi mereka butuh lebih. Jika Bruno Fernandes dan Mason Mount diklasifikasikan sebagai pemain No.10, Manchester United hanya punya tiga gelandang tengah senior musim lalu: Kobbie Mainoo, Casemiro, dan Manuel Ugarte. Casemiro sudah bergabung ke Inter Miami, dan Ugarte mungkin sudah hengkang jika tidak mengalami cedera ACL di Piala Dunia yang membuatnya absen hampir sepanjang musim. United masih butuh gelandang atletis perebut bola.
Newcastle: Full-Back
Kami bisa memilih beberapa posisi untuk Newcastle, tapi full-back adalah prioritas karena mereka butuh pemain untuk masing-masing sisi atau setidaknya seseorang yang bisa bermain di kedua sisi. Tino Livramento dan Lewis Hall adalah dua full-back terbaik di Premier League, namun mereka sering cedera dan Newcastle kehilangan kedalaman setelah Kieran Trippier, Emil Krafth, dan Matt Targett hengkang. Dan Burn bisa mengisi bek kiri, tapi itu tidak ideal; mereka punya Leo Shahar di bek kanan yang masih remaja; dan Alex Murphy bisa mengisi bek kiri namun ia lebih cocok sebagai bek tengah.
Nottingham Forest: Bek Tengah
Anggap saja mengganti Elliot Anderson adalah prioritas. Area lain yang perlu diperkuat adalah bek tengah. Pelatih baru Oliver Glasner sangat menyukai tiga bek; ia selalu menggunakan formasi tiga atau lima bek selama dua musim di Crystal Palace. Forest sudah memiliki beberapa bek tengah—Nikola Milenkovic, Murillo, Morato, dan Jair Cunha, plus beberapa prospek—namun mendatangkan setidaknya satu lagi bek yang berpengalaman bermain di tiga bek tidak akan rugi.
Tottenham: Sayap
Saat Mohammed Kudus dan Dejan Kulusevski pulih, Tottenham akan memiliki opsi bagus di sayap kanan. Namun mereka tidak ikut tur pramusim ke Selandia Baru dan Australia, dan mungkin tidak tersedia untuk awal musim. Di sisi kiri, Spurs hanya punya Mathys Tel dan Wilson Odobert, keduanya tidak bisa diandalkan untuk kontribusi konsisten. Total Tel dan Odobert hanya mencetak 4 gol dan 3 assist dari 55 penampilan liga musim lalu. Odobert juga dalam pemulihan cedera lutut serius dan akan absen setidaknya beberapa bulan pertama. Itu membuat Tottenham hampir tanpa opsi di sayap. Mereka butuh setidaknya satu winger.
Sunderland: Gelandang Kreatif
Setelah bursa transfer yang sangat sibuk musim panas lalu dan musim pertama yang sangat sukses di papan atas, Sunderland lebih tenang kali ini. Itu bisa dimaklumi, namun dengan kampanye Eropa pertama sejak 1973, mereka butuh lebih banyak kedalaman, termasuk di lini tengah. Mereka sangat butuh kreativitas tambahan karena hanya menghasilkan 23,2 expected goal dari open play dalam 38 laga liga musim lalu—lebih buruk hanya Burnley dan Wolves yang terdegradasi.